Pages

Ads 468x60px

Labels

Sunday, 2 August 2015

Manajemen Kas dan Sekuritas

MANAJEMEN  KAS

1.  Pengertian Kas
Kas merupakan salah satu bagian dari aktiva yang memiliki sifat paling lancar (paling likuid) dan paling mudah berpindah tangan dalam suatu transaksi. Transaksi tersebut misalnya untuk pembayaran gaji atau upah pekerja, membeli aktiva tetap, membayar hutang, membayar dividen dan transaksi lain yang diperlukan perusahaan. Kas merupakan aktiva yang tidak dapat langsung menghasilkan ‘laba’, dalam arti tidak bisa untuk mendapatkan laba secara langsung dalam operasi perusahaan. Kas perlu dikelola secara efektif dan efisien supaya pemanfaatan kas dapat optimal.


Kas dibutuhkan untuk operasional sehari-hari (sebagai modal kerja) maupun untuk pembelian aktiva tetap memiliki sifat kontinyu dan tidak kontinyu. Kebutuhan kas kontinu atau yang terus menerus misalnya bagian produksi untuk membeli bahan baku, bahan penolong, membayar upah tenaga kerja harian dan gaji karyawan tetap, membayar biaya pemeliharaan, membeli suplies kantor habis pakai atau perlengkapan pabrik dan pengeluaran tunai lainnya. Tanpa ada kas yang cukup kegiatan produksi akan terganggu dan akibatnya mengganggu bagian lain yang terkait. Bagian pemasaran membutuhkan kas untuk membayar biaya iklan, promosi, membayar biaya angkut dsb.  Tanpa ada kas yang cukup kegiatan pemasaran terganggu dalam menjual produk yang dihasilkan. Kebutuhan kas untuk berbagai pembayaran tersebut merupakan aliran kas keluar (cash outflow) atau termasuk dalam pembelanjaan aktif. Sedangkan kebutuhan kas yang tidak kontinyu atau tidak rutin untuk pembelian aktiva tetap, pembayaran angsuran hutang, pembayaran dividen, pembayaran pajak, dsb.
Aliran kas masuk (cash inflow) atau termasuk dalam pembelanjaan pasif merupakan aliran sumber-sumber dari mana kas diperoleh. Aliran kas masuk juga ada yang sifatnya terus menerus (rutin) dan tidak terus menerus (tidak rutin). Aliran kas masuk yang kontinyu (rutin) sebagian besar berasal dari penjualan produk utama perusahaan yang dijual secara tunai, dan juga dari penerimaan piutang yang telah dijadwalkan sesuai dengan penjualan kredit yang dilakukan. Penerimaan kas yang tidak rutin antara lain penerimaan dari uang sewa gedung, penjualan aktiva yang tidak terpakai, penerimaan modal saham dari para investor, penerimaan hutang atau kredit dari bank, dan penerimaan bunga.
Dengan adanya aliran kas masuk dan aliran kas keluar yang kontinyu dan tidak kontinyu, maka sangat penting usaha pengelolaan kas ini. Perimbangan pengeluaran dan penerimaan kas harus disesuaikan dengan kepentingan perusahaan. Perusahaan harus menentukan berapa besarnya kas minimal yang harus ada, dan menentukan berapa kas yang ideal boleh disimpan sehingga operasi perusahaan tidak terganggu dan kas yang ada tidak menganggur terlalu lama.
2.  Persediaan Kas Minimal
Jumlah uang kas minimal yang harus ada di perusahaan berbeda-beda antara yang satu dengan lainnya, hal ini sangat tergantung pada besar kecilnya dan kemampuan perusahaan. Di samping itu kas minimal juga tergantung pada prediksi atau estimasi besarnya aliran kas masuk dan kas keluar beserta penyimpangannya. Estimasi aliran kas keluar perlu mempertimbangkan adanya biaya yang keluar secara tunai dan biaya yang tidak tunai. Dalam perencanaan kas, biaya yang tidak tunai seperti penyusutan tidak diperhitungkan dalam menentukan jumlah kas minimal perusahaan. Hubungan baik dengan pihak perbankan, suplier dan perantara juga mempengaruhi besarnya persediaan kas minimal yang harus dijaga oleh perusahaan.
Perusahaan harus memiliki persediaan kas minimal yang harus ada setiap saat, atau sering disebut persediaan besi (safety cash). Persediaan minimal kas pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan persediaan minimal pada persediaan barang. Persediaan kas minimal ini bertujuan untuk menjaga agar kelangsungan operasi perusahaan tetap terjamin dan dapat memenuhi kewajiban finansial perusahaan apabila sewaktu-waktu harus dibayar. Kewajiban finansial ini dapat berupa hutang lancar maupun biaya-biaya baik biaya tetap maupun biaya variabel yang harus segera harus dibayar untuk kelangsungan operasi perusahaan. Ketersediaan kas dalam perusahaan merupakan hal yang mutlak.
Kas merupakan salah satu aktiva yang memiliki likuiditas paling tinggi. Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban yang harus segera dipenuhi atau kewajiban jangka pendek. Kewajiban perusahaan kepada pihak kreditur jangka pendek maupun kewajiban dalam pembiayaan operasi perusahaan sehari-hari demi kelangsungan produksi. Aktiva lancar sebagai modal kerja akan dibandingkan dengan jumlah hutang lancar sebagai kewajiban finansial yang harus segera dipenuhi perusahaan. Likuiditas, khususnya dilihat dari kas yang tersedia dapat juga dibandingkan dengan hutang lancar yang ada. Perbandingan antara kas dengan hutang lancar disebut rasio kas (cash ratio). Rasio kas yang tinggi menunjukkan kemampuan membayar hutang lancar juga tinggi. Besarnya kas yang cukup baik dan aman menurut HG. Guthmann  adalah antara 5% s/d 10% dari aktiva lancar yang ada. Jumlah kas yang kurang dari 5% dari aktiva lancar akan menyulitkan operasi perusahaan. Standar jumlah kas 5% sampai dengan 10% ini biasanya layak untuk perusahaan manufaktur. Bagi perusahaan jasa perbankan, jumlah kas biasanya akan lebih besar lagi. Semakin besar jumlah kas yang tersedia di perusahaan, maka makin tinggi pula likuiditasnya. Persediaan kas yang terlalu besar yang berarti likuiditasnya tinggi bukan berarti perusahaan tersebut baik, sebab kas yang terlalu besar berakibat pemanfaatan kas tersebut kurang efisien karena kas tersebut menganggur dan tidak menghasilkan keuntungan.
3  Motif Memiliki Kas
Perusahaan memiliki kas pada dasarnya sesuai dengan teori “ Liquidity preference” dari J.M. Keynes yaitu menguasai atau memiliki uang berbentuk tunai ada tiga motif atau tiga tujuan.
Pertama, motif transaksi (transaction motive) atau kebutuhan kas untuk transaksi artinya perusahaan memiliki kas untuk keperluan realisasi berbagai transaksi bisnisnya, baik transaksi yang bersifat rutin maupun yang tidak rutin. Memiliki kas yang cukup untuk transaksi sangat diperlukan dalam operasional sehari-hari seperti pembayaran upah, pembelian bahan baku, pembelian bahan penolong, biaya administrasi, biaya kantor dan pembayaran tunai lainnya. Pembelian aktiva tetap dan kegiatan lain merupakan kegiatan transaksi perusahaan yang pengeluaran kasnya direncanakan untuk jangka panjang.
Kedua, motif berjaga-jaga (precautionary motive) atau kebutuhan kas untuk berjaga-jaga artinya perusahaan memiliki kas untuk mengantisipasi berbagai kebutuhan yang mendadak. Kebutuhan kas untuk berjaga-jaga dimaksudkan untuk mengantisipasi aliran kas masuk dan keluar yang tidak kontinyu dan sulit diperkirakan. Pengeluaran yang mendadak atau tiba-tiba muncul dan harus dibayar akan menyulitkan perusahaan apabila tidak memiliki cadangan kas yang cukup. Pengeluaran kas untuk keperluan yang mendadak biasanya tidak diperkirakan sebelumnya, oleh karena itu perusahaan perlu memiliki kas yang cukup untuk berjaga-jaga. Pada motif berjaga-jaga perusahaan menetapkan saldo kas minimum yang besarnya tergantung pada indikator dari penyimpangan aliran kas yang dianggarkan. Penerimaan dan pengeluaran perusahaan diprediksi melalui anggaran kas atau cash budget. Jika penerimaan dan pengeluaran dapat diprediksi dengan tepat, maka kebutuhan kas yang bersifat mendadak bisa ditentukan sekecil mungkin berarti saldo kas minimum kecil, tetapi jika penerimaan dan pengeluaran tidak dapat diprediksi dengan tepat, maka membutuhkan saldo kas minimum yang cukup besar.
Ketiga, motif spekulasi (speculatif motive) atau kebutuhan kas untuk berspekulasi. Kebutuhan kas untuk spekulasi dimaksudkan agar perusahaan dapat memanfaatkan kesempatan apabila ada barang yang dapat dibeli secara lebih murah. Perusahaan berspekulasi dalam pembelian bahan mentah yang jumlahnya melebihi kebutuhan, karena menurut prediksi bahan mentah tersebut harganya akan naik secara signifikan di masa yang akan datang. Untuk mengurangi risiko kenaikan harga tersebut, maka perusahaan dapat membelinya saat ini, dengan sendirinya harus dipertimbangkan biaya-biaya yang muncul akibat penyimpanan barang tersebut dan risiko kerusakannya. Contoh lain, perusahaan memiliki kas untuk memperoleh keuntungan yang besar dari kesempatan investasi yang bersifat likuid. Dalam kondisi ekonomi yang lesu dan harga saham turun drastis, maka perusahaan membeli saham dengan harapan harga saham meningkat setelah kondisi ekonomi membaik.
Pentingnya kas bagi operasi perusahaan telah diketahui, namun sulit menentukan berapa besarnya kas yang harus disediakan dan kapan waktu yang tepat, agar pemanfaatan kas tersebut dapat efektif dan efisien. Ditinjau dari waktu kapan terjadinya kas masuk dan kas keluar, kebutuhan dapat dikelompokkan menjadi kebutuhan kas jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Kebutuhan kas keluar jangka pendek biasanya akan menghasilkan kas masuk dalam jangka pendek. Kebutuhan kas untuk jangka panjang juga akan menghasilkan kas masuk dalam jangka panjang. Contoh, investasi penambahan mesin, merupakan kebutuhan kas untuk masa waktu yang lama dan hasil yang diharapkan juga dalam waktu yang panjang. Kebutuhan kas untuk melaksanakan promosi berupa iklan akan menghasilkan kenaikan kas masuk dari kenaikan penjualan dalam jangka waktu yang panjang di masa yang akan datang.
4  Model Manajemen Kas
Model manajemen kas, ada dua macam yaitu pertama model yang dikembangkan oleh William J.  Baumol dan kedua model yang dikembangkan oleh Merton H. Miller dan Daniel Orr.
A. Model Baumol
Model manajemen kas yang dikemukakan oleh William Baumol sering disebut dengan Model Persediaan.  Baumol mengakui ada kesamaan antara manajemen kas dengan manajemen persediaan, jika ditinjau dari aspek keuangan. Baumol menyatakan bahwa saldo kas yang ada dalam perusahaan diperlakukan sama dengan persediaan barang. Model Economic Order Quantity (EOQ) yang digunakan untuk menghitung pesanan barang yang paling ekonomis. Konsep EOQ ini juga berlaku dalam perhitungan persediaan kas yang paling ekonomis atau saldo kas yang ditargetkan. Model Baumol ini mengasumsikan bahwa perusahaan menggunakan kas dengan pola yang konstan baik kebutuhan kas, aliran kas masuk maupun aliran kas keluarnya. Misalnya rencana penggunaan kas suatu perusahaan selama seminggu  sebesar  Rp. 5.000.000.  Aliran  kas  masuk  diperkirakan  sebesar Rp. 4.000.000 per minggu, oleh karena itu kebutuhan kas bersih atau kas keluar bersih sebesar Rp. 5.000.000 - Rp. 4.000.000 = Rp. 1.000.000,-. Keadaan posisi kas tersebut akan terlihat sebagai berikut:

 
















Gambar 1. Saldo Kas Menurut Model Baumol
Gambar tersebut menunjukkan bahwa apabila perusahaan mulai bekerja (awal waktu) dengan saldo kas sebesar C = Rp. 3.000.000 (saldo kas maksimum). Jika kas keluar bersih per minggu sebesar Rp. 1.000.000, maka saldo kasnya akan menjadi nol pada akhir minggu ketiga. Rata-rata saldo kas yang ada sebesar C / 2 = Rp. 3.000.000 : 2 = Rp. 1.500.000. Pada awal minggu ketiga, perusahaan harus mengisi kasnya kembali dengan jumlah yang tetap yaitu sebesar Rp. 3.000.000 demikian seterusnya. Apabila jumlah kas maksimum dinaikkan menjadi sebesar  Rp. 6.000.000 dan kebutuhan kas keluar bersih tetap sebesar Rp. 1.000.000 per minggu, maka jangka waktu pemakaiannya akan lebih lama yaitu selama 6 minggu. Dengan demikian saldo kas rata-ratanya akan naik menjadi Rp. 6.000.000 : 2 = Rp. 3.000.000,-. Apabila kas tersebut diperoleh dari pinjaman, maka biaya transaksi peminjaman akan lebih kecil apabila frekuensi peminjamannya lebih kecil atau jumlah saldo kas yang dimiliki diperbesar. Artinya apabila jumlah uang kas yang dipinjam besar dalam sekali pinjam, maka frekuensi peminjamannya kecil sehingga biaya administrasinya juga kecil. Di lain pihak terjadi sebaliknya, dengan saldo kas yang semakin besar maka pendapatan yang diperoleh akan semakin kecil karena banyak kas yang menganggur. Hal ini karena kas yang menganggur tidak dapat menghasilkan pendapatan, kecuali kas menganggur tersebut diinvestasikan dalam surat berharga atau deposito bank. Oleh karena itu perlu ditentukan berapa besarnya jumlah kas yang optimal bagi perusahaan. Baumol memberikan formula untuk menentukan jumlah kas yang optimal dengan konsep EOQ tersebut di atas, yaitu:
C =
 
 






di mana:   C =   jumlah kas yang optimal
F   =   biaya tetap untuk memperoleh pinjaman atau menjual sekuritas
T   =   jumlah kas untuk transaksi selama periode tertentu
k   = biaya kesempatan dari kas yang dimiliki. Biaya kesempatan merupakan penghasilan yang seharusnya dapat diperoleh dari kas yang menganggur.
Berikut ini diberikan contoh sehingga memberikan gambaran yang lebih jelas:
Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap berupa bunga per tahun sebesar Rp. 150.000. Jumlah kebutuhan kas untuk kegiatan perusahaan per minggu sebesar Rp. 1.000.000, sehingga setahun = 52 x Rp. 1.000.000 = Rp. 52.000.000,-. Besarnya penghasilan investasi yang diharapkan sebesar 15% per tahun. Sehingga jumlah kas optimal yang diperlukan perusahaan adalah:
C =
C =  = Rp. 10.198.039,-

Jadi kas optimal perusahaan tersebut adalah sebesar Rp. 10.198.039,-. Jumlah frekuensi transaksi yang harus dilakukan sebanyak = Rp. 52.000.000 / Rp. 10.198.039 = 5,09 kali atau sebanyak 5 kali. Sedangkan rata-rata saldo kas = Rp. 10.198.039 : 2 = Rp. 5.099.019,5 atau sebesar Rp. 5.099.020,-. Dari contoh tersebut, model Baumol terlalu sederhana, terutama dengan asumsi mengenai aliran kas masuk dan keluar yang dianggap konstan dan diperkirakan dengan tepat tanpa mengindahkan adanya situasi musiman atau fluktuasi ekonomi. Pada model Baumol ada asumsi yang sulit untuk dipenuhi yaitu pemakaian kas setiap waktunya sama atau konstan, oleh karena itu tidak cocok untuk kondisi ketidakpastian pemakaian kas. Untuk mengatasi perubahan aliran kas masuk dan kas keluar yang tidak konstan, dapat dilakukan dengan model Miller dan Orr.
B. Model Miller and  Orr
Model Miller dan Orr merupakan model penentuan persediaan apabila aliran kas masuk dan keluar tidak konstan. Konsep Miller dan Orr menyatakan bahwa perusahaan harus menetapkan jumlah saldo kas yang paling tinggi sebagai batas atas dan saldo kas terendah sebagai batas bawah. Apabila saldo kas telah mencapai batas atas, maka perusahaan hendaknya merubah sebagian kas tersebut ke dalam bentuk surat berharga agar saldo kas kembali pada jumlah yang ideal. Sebaliknya, apabila jumlah saldo kas telah mencapai batas minimal (batas bawah), maka perusahaan dapat merubah sekuritas yang ada menjadi kas sehingga mencapai jumlah saldo kas yang ideal.
Apabila saldo kas mengalami penurunan hingga mencapai nol, maka perusahaan harus segera mengubah sekuritasnya menjadi kas senilai saldo kas optimal. Apabila saldo kas semakin membesar, maka pada batas atas uang kas harus diubah menjadi sekuritas.
Rumus model Miller dan Orr untuk menentukan jumlah saldo kas yang optimal sebagai berikut:
Z =
 
 







di mana:   T     = biaya tetap untuk melakukan transaksi
s2    = varian dari aliran kas masuk bersih sebagai penyebaran arus kas
i       = tingkat bunga harian untuk investasi pada surat berharga (sekuritas)

Nilai maksimal sebagai batas atas (diberi notasi h) adalah sebesar 3 z. Sedangkan rata-rata saldo kas kurang lebih sebesar (z  + h) / 3. Jumlah saldo kas sebagai batas minimal besarnya adalah nol. Untuk lebih jelasnya kita lihat gambar berikut ini.
 













Gambar 2. Batas-batas Pengawasan Kas Model Miller dan Orr

Contoh  Suatu perusahaan mengeluarkan biaya transaksi sebesar Rp. 5.000 setiap kali transaksi. Deviasi standar (s) aliran kas masuk sebesar Rp. 100.000. Tingkat bunga per tahun sebesar 12%. Batas minimal kas yang tersedia sebagai batas bawah sebesar nol rupiah. Satu tahun dihitung 360 hari. Maka jumlah persed iaan kas yang diinginkan perusahaan adalah:
            Z =
            Z =  = Rp. 482.745,-

Jadi jumlah kas yang diinginkan perusahaan sebesar Rp. 482.745,-. Nilai batas atas adalah 3 z yaitu = 3 (Rp. 482.745) = Rp. 1.448.235,-. Batas atas jumlah kas tersebut menunjukkan batas maksimal kas yang optimal tersedia di perusahaan. Ketika kas mencapai batas atas tersebut (Rp. 1.448.235), maka perusahaan harus merubah sebagian kas tersebut sebesar Rp. 965.490 (dari Rp. 1.448.235 – Rp. 482.745) menjadi surat berharga agar saldo kas kembali sebesar Rp. 482.475 sesuai dengan yang diinginkan perusahaan. Sedangkan ketika kas perusahaan sampai batas minimal, dalam hal ini nol rupiah, maka perusahaan harus menjual surat berharganya sebesar                  Rp. 482.475 agar saldo kas kembali ke jumlah Rp. 482.475 sesuai dengan yang diinginkan perusahaan. Untuk menentukan besarnya kas yang harus disediakan dan kapan waktu yang tepat, agar pemanfaatan kas dapat efektif dan efisien perlu mengetahui anggaran kas atau Cash budget.
5.  Anggaran Kas atau Cash budget
Anggaran kas atau cash budget merupakan skedul yang menyajikan perkiraan aliran kas masuk dan kas keluar suatu perusahaan selama periode tertentu pada waktu yang akan datang. Anggaran kas, sebagai proyeksi posisi kas yang berupa penerimaan dan pengeluaran kas  pada saat tertentu di masa yang akan datang. Periode penyusunan anggaran kas ini dapat disusun untuk waktu tahunan, triwulanan, bulanan, mingguan atau bahkan harian. Perusahaan pada umumnya menggunakan anggaran kas bulanan yang disusun untuk jangka waktu 3 bulan, 6 bulan sampai 12 bulan. Anggaran kas untuk jangka waktu yang lebih panjang digunakan untuk perencanaan yang bersifat umum dan menyeluruh, sedangkan anggaran dalam jangka waktu yang lebih pendek biasanya untuk pengendalian kas yang lebih riil dan spesifik.
Anggaran kas sangat penting untuk menjaga likuiditas dan kelangsungan usaha, sebab dengan menyusun anggaran kas dapat diprediksi waktu atau kapan perusahaan mengalami defisit dan kapan mengalami surplus kas. Pada periode yang mengalami defisit kas, bisa segera disiapkan sumber dana menutupnya. Defisit dapat ditutup dari pinjaman pihak bank atau dengan mencari modal sendiri. Apabila mengalami surplus kas bisa direncanakan untuk investasi pada instrumen investasi yang sesuai likuiditasnya atau merencanakan pemanfaatan kas untuk kegiatan yang lebih menguntungkan. Hal ini dilakukan agar jangan sampai terjadi kelebihan kas terlalu besar, sehingga ada sejumlah kas yang menganggur yang tidak mendatangkan pendapatan serta tidak efisien. Keberadaan kas sebagai bagian dari aktiva lancar akan berpengaruh terhadap likuiditas perusahaan.
Fokus anggaran kas meliputi dua bagian yaitu: 1. penerimaan kas yang direncanakan dan 2. pengeluaran kas yang direncanakan. Merencanakan aliran uang kas masuk dan kas keluar memberikan saldo posisi awal dan saldo akhir kas yang direncanakan untuk jangka waktu tertentu.
1.  Penerimaan kas yang direncanakan atau estimasi penerimaan kas yaitu proyeksi penerimaan pada waktu tertentu baik yang berasal dari penerimaan penjualan tunai, penerimaan piutang, penerimaan bunga, hasil penjualan aktiva tetap maupun penerimaan lainnya.
2.   Pengeluaran kas yang direncanakan atau estimasi pengeluaran kas yaitu proyeksi pengeluaran yang dilakukan perusahaan, seperti pembelian bahan baku, pembayaran upah dan gaji, pengeluaran tunai biaya pemasaran, biaya administrasi, pembayaran hutang, pembayaran pajak dan pembayaran lainnya yang bersifat tunai.
Setelah mengadakan estimasi pada masing-masing periode, langkah selanjutnya membandingkan hasil estimasi penerimaan dengan estimasi pengeluaran kas.
Perencanaan aliran uang kas masuk dan keluar akan menunjukkan:
1.  Kebutuhan untuk membiayai kekurangan kas yang mungkin terjadi, atau
2. Kebutuhan terhadap perencanaan investasi atas kelebihan uang pada penggunaan yang mendatangkan keuntungan.
Anggaran kas secara langsung berhubungan dengan rencana lainnya, seperti anggaran penjualan, anggaran piutang, anggaran biaya-biaya, dan anggaran pengeluaran modal, namun anggaran tersebut tidak secara otomatis langsung berpengaruh terhadap anggaran kas. Anggaran kas menekankan arus kas masuk dan keluar pada saat tertentu, oleh karena itu, tujuan anggaran kas yaitu:
1.   Membuat taksiran posisi kas pada setiap akhir periode dari kegiatan operasi perusahaan baik periode bulanan ataupun tahunan.
2.   Mengetahui adanya kelebihan atau kekurangan kas yang terjadi pada periode tertentu.
3.   Merencanakan besarnya kas untuk menutup kekurangan (defisit) yang terjadi.
4.   Menentukan besarnya kas untuk pembayaran-pembayaran dan kelebihan kas yang dapat digunakan untuk melakukan investasi.
5.   Mengetahui waktu kapan suatu pinjaman atau kewajiban lainnya harus dibayar.


6. Penyusunan Anggaran Kas
Penyusunan anggaran kas memberikan gambaran tentang sumber penerimaan kas, pos-pos pengeluaran kas, saat terjadinya kelebihan atau kekurangan kas, dan saat pembayaran pinjaman dan bunga pinjaman. Penyusunan anggaran kas ini dilakukan melalui beberapa tahap:
1.  Menyusun estimasi penerimaan dan pengeluaran dari operasi perusahaan (transaksi operasi). Rencana penerimaan berasal dari penjualan tunai, penerimaan piutang, pendapatan bunga, pendapatan sewa, dan pendapatan lain yang diperoleh perusahaan. Sedangkan estimasi pengeluaran meliputi pembelian tunai, pembayaran hutang, pembayaran gaji, pembayaran bunga dan pembayaran biaya-biaya lainnya. Dengan estimasi penerimaan dan pengeluaran ini dapat diketahui pula adanya defisit atau surplus yang terjadi.
2. Menyusun estimasi atau rencana transaksi finansial, yaitu transaksi yang berhubungan dengan estimasi kebutuhan dana yang diperoleh dari pinjaman untuk menutup defisit yang terjadi beserta estimasi pembayaran pinjaman tersebut beserta bunganya.
3. Menyusun anggaran kas final, yaitu meliputi transaksi operasi dan transaksi fmansial. Di sini terlihat anggaran kas secara keseluruhan dari estimasi penerimaan dan pengeluaran kas.
Contoh penyusunan anggaran kas, supaya dapat memberikan gambaran yang jelas.
Pada Tahun 2010 perusahaan “PT A” menyusun anggaran kas. Estimasi penerimaan kas dan pengeluaran kas selama enam bulan pertama (bulan Januari s/d Juni) sebagai berikut:
1.   Estimasi atau Rencana Penerimaan:
Penerimaan setiap bulan dari penjualan yang dilakukan secara tunai sebanyak 25 % dan secara kredit 75 % dari penjualan. Dari penjualan kredit, 60 % diterima pada satu bulan setelah bulan penjualan dan sisanya diterima 2 bulan setelah bulan penjualan.
Total penerimaan piutang bulan Januari dan Pebruari masing-masing Rp. 1.900.000 dan                         Rp. 2.600.000. Estimasi atau rencana penerimaannya adalah:
a. Besarnya penjualan yaitu:
Januari ......... Rp. 4.000.000                 April ..............   Rp. 5.200.000

Pebruari ....... Rp. 5.500.000                 Mei ................   Rp. 5.400.000

Maret ........... Rp. 5.600.000                 Juni ................  Rp. 6.500.000
b. Penerimaan lain-lain yaitu:
Januari ............ Rp.    400.000              April ..............   Rp. 1.200.000
Pebruari .......... Rp.    900.000              Mei ................  Rp. 1.400.000
Maret ..............  Rp. 1.000.000             Juni ................  Rp. 1.500.000

2.  Estimasi atau Rencana Pengeluaran:
a. Pembelian bahan mentah:
Januari ......... Rp. 1.000.000                 April ..............   Rp. 2.200.000
Pebruari ....... Rp. 1.500.000                 Mei ................   Rp. 2.000.000
Maret ............ Rp.1.600.000                 Juni ...............   Rp. 2.100.000
b. Pembelian bahan penolong:
Januari ......... Rp. 200.000                   April ...................  Rp. 500.000
Pebruari ....... Rp. 300.000                    Mei ...................   Rp. 400.000
Maret ............ Rp. 200.000                   Juni ...................  Rp. 500.000
c. Pembayaran gaji dan upah:
Januari .......... Rp. 2.500.000                April ................  Rp. 2.800.000
Pebruari ........ Rp. 2.500.000                Mei ..................  Rp. 3.000.000
Maret ............ Rp. 2.600.000                Juni .................  Rp. 3.200.000
d. Biaya transport dan komisi penjualan:
Januari ............ Rp. 300.000                 April ...............   Rp. 600.000

Pebruari ...........Rp. 500.000                  Mei ..................  Rp. 500.000

Maret ............... Rp. 400.000                 Juni .................  Rp. 500.000
e. Biaya administrasi dan lainnya:
Januari ........... Rp. 350.000                  April ................   Rp. 550.000
Pebruari .........  Rp. 550.000                  Mei ..................   Rp. 450.000
Maret .............  Rp. 450.000                  Juni ..................  Rp. 550.000
3.   Estimasi atau Rencana lain:
a.   Saldo kas akhir pada Bulan Desember tahun sebelumnya Rp. 300.000
b.   Apabila  terjadi  defisit,  perusahaan  akan  melakukan  pinjaman  ke bank pada permulaan bulan dan pengembaliannya juga pada permulaan bulan dengan bunga sebesar 2% per bulan
c.   Pinjaman ke bank pada Bulan Januari sebesar Rp. 1.000.000 dan Bulan Pebruari sebesar          Rp. 500.000,-. Pembayaran angsuran pinjaman tersebut akan dilakukan pada Bulan April sebesar Rp. 600.000, Bulan Mei sebesar Rp. 300.000 dan sisanya sebesar Rp. 600.000 akan dibayar pada Bulan Juni 2001
d.   Persediaan minimum kas atau persediaan besi kas sebesar Rp. 200.000
Dari informasi data tersebut dapat disusun anggaran kas untuk Bulan Januari sampai dengan Juni Tahun 2010 secara bertahap yaitu anggaran kas untuk transaksi operasi (transaksi usaha), transaksi finansial dan transaksi secara keseluruhan.
Penyelesaiannya:
1.  Menyusun Anggaran Kas untuk Transaksi Operasi (transaksi usaha)
Anggaran kas untuk transaksi operasi menggambarkan penerimaan dan pengeluaran kas dari usaha operasi perusahaan. Penerimaan yang berasal dari penjualan dibedakan menjadi penjualan tunai dan penerimaan dari penagihan piutang. Kedua penerimaan tersebut dapat dihitung sebagai berikut:
A.        Penerimaan dari hasil penjualan tunai setiap bulannya adalah:
Januari      = 25% x Rp. 4.000.000 = Rp. 1.000.000
Pebruari    = 25% x Rp. 5.500.000 = Rp. 1.375.000
Maret         = 25% x Rp. 5.600.000 = Rp. 1.400.000

April           = 25% x Rp. 5.200.000 = Rp. 1.300.000

Mei            = 25% x Rp. 6.000.000 = Rp. 1.500.000
Juni           = 25% x Rp. 6.500.000 = Rp. 1.625.000
B.         Penerimaan hasil penjualan tunai dan penagihan piutang dari penjualan kredit setiap bulannya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. PT ”A”
Penerimaan Kas dari Hasil Penjualan Tunai dan
Pengumpulan Piutang dari Penjualan Kredit  Bulan Januari s/d Juni 2010
(dalam ribuan rupiah)
No
Keterangan
Bulan
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
1
Total Penjualan
4.000
5.500
5.600
5.200
6.000
6.500
2
Penjualan tunai (25%)
1.000
1.375
1.400
1.300
1.500
1.625
3
Penjualan kredit (75%)
3.000
4.125
4.200
3.900
4.500
4.875
4
Penerimaan piutang:
60% dari penj. kredit
40% dari penj. kredit

-
1.900

1.800
   800

2.475 1.200

2.520 1.650

2.340 1.680

2.700 1.560
5
Total dari piutang
1.900
2.600
3.675
4.170
4.020
4.260
6
Total kas masuk (2 +5)
2.900
3.975
5.075
5.470
5.520
5.885

Dari anggaran penerimaan penjualan (tunai dan piutang) tersebut pada Tabel 1., maka dapat disusun anggaran kas untuk transaksi operasi (transaksi penerimaan dan pengeluaran) PT “A” yang dapat dilihat pada Tabel 2. berikut ini.
Tabel 2. PT ”A”
Anggaran Transaksi Operasi Bulan Januari - Juni Tahun 2010
(Penerimaan dan Pengeluaran Kas)
(dalam ribuan rupiah)

Keterangan
Bulan
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Rencana Penerimaan:

Penjualan tunai
1.000
1.375
1.400
1.300
1.500
1.625
Penerimaan piutang
1.900
2.600
3.675
4.170
4.020
4.260
Penerimaan lain
400
900
1.000
1.200
1.400
1.500
Jumlah Penerimaan
3.300
4.875
6.075
6.670
6.920
7.385
Rencana Pengeluaran

Pembelian Bahan Mentah
1.000
1.500
1.600
2.200
2.000
2.100
Pemb. Bahan Penolong
200
300
200
500
400
500
Pembayaran Gaji/upah
2.500
2.500
2.600
2.800
3.000
3.200
Pemb. transport/komisi
300
500
400
600
500
500
Pemb.adm dan lainnya
350
550
450
550
450
550
Jumlah Pengeluaran
4.350
5.350
5.250
6.650
6.350
6.850
Surplus (Defisit)
(1.050)
(475)
825
20
570
535

Jika terjadi defisit, maka perusahaan dapat menutupnya dengan meminjam uang ke bank. Pinjaman ke bank, pembayaran angsuran dan pembayaran bunganya dapat dilihat pada tabel transaksi finansial berikut ini.
Tabel 3. PT ”A”
Anggaran Transaksi Finansial Bulan Januari - Juni Tahun 2010
(Penerimaan Pinjaman dan Pengembaliannya)
(dalam ribuan rupiah)
Keterangan

Bulan

Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Saldo kas awal bulan1)
300
230
225
1.020
422
680
Penerimaan pinjaman2)
1.000
500
-
-
-
-
Pembayaran angsuran3)
-
-
-
600
300
600
Kas yang tersedia4)
1.300
730
225
420
122
80
Surplus (defisit)5)
(1.050)
(475)
825
20
570
535
Pembayaran bunga6)
(20)
(30)
(30)
(18)
(12)
-
Saldo kas akhir bulan7)
230
225
1.020
422
680
615
Sisa pinjaman kumulatif8)
1.000
1.500
1.500
900
600
0
Penjelasan tabel:
1)   Saldo kas awal bulan merupakan saldo kas akhir bulan sebelumnya.
2)   Penerimaan pinjaman Bulan Januari sebesar Rp. 1000.000 dan Pebruari = Rp. 500.000.
     Jumlah pinjaman minimal (misalnya X) dapat dihitung sebagai berikut:
     Jumlah pinjaman = Persediaan besi + Besarnya deflsit - Saldo awal 4 - Bunga
                     X   = Rp. 200.000 + Rp. 1 .050.000 – Rp. 300.000 + 0,02 X
            0,98   X   = Rp. 950.000             X   = Rp. 969.388
     Jadi besarnya pinjaman Bulan Januari  minimal adalah Rp. 969.388,-.
3)   Pembayaran angsuran pinjaman dilakukan apabila perusahaan memiliki saldo kas yang cukup (persediaan besi kas sebesar Rp. 200.000). Dalam contoh ini, pembayaran sudah ditentukan yaitu Bulan April sebesar Rp. 600.000, bulan Mei Rp. 300.000 dan Bulan Juni Rp. 600.000.
4)   Kas yang tersedia merupakan penjumlahan dari  saldo kas awal ditambah penerimaan pinjaman dikurangi angsuran pinjaman.
5)   Surplus (defisit) berasal dari data tabel transaksi sebelumnya.
6)   Pembayaran bunga sama dengan besarnya bunga (2%) dikalikan dengan sisa pinjaman.
7)   Saldo kas akhir = Kas yang tersedia - surplus (defisit) - pembayaran bunga
8)   Pinjaman kumulatif merupakan sisa pinjaman yang masih ada  di perusahaan.

Setelah tabel transaksi operasi dan tabel transaksi finansial dibuat, kemudian langkah terakhir adalah membuat anggaran kas secara menyeluruh (anggaran final) di mana dalam tabel tersebut tertera transaksi operasi dan transaksi finansialnya.

Tabel 4. PT ”A”
Anggaran Kas Final (Transaksi Operasi dan Transaksi Finansial)
Bulan Januari - Juni Tahun 2010
(dalam ribuan rupiah)
Keterangan
Bulan
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Saldo Kas awal bulan
300
230
225
1.020
422
680
Rencana Penerimaan:

Penjualan tunai
1.000
1.375
1.400
1.300
1.500
1.625
Penerimaan piutang
1.900
2.600
3.675
4.170
4.020
4.260
Penerimaan pinjaman
1.000
500
-
-
-
-
Penerimaan lain
400
900
1.000
1.200
1.400
1.500
Jumlah Penerimaan
4.300
5.375
6.075
6.670
6.920
7.385
Jumlah Kas tersedia
4.600
5.605
6.300
7.690
7.342
8.065
Rencana Pengeluaran

Pembelian Bahan Mentah
1.000
1.500
1.600
2.200
2.000
2.100
Pemb. Bahan Penolong
200
300
200
500
400
500
Pembayaran Gaji/upah
2.500
2.500
2.600
2.800
3.000
3.200
Pemb. transport/komisi
300
500
400
600
500
500
Pemb.adm dan lainnya
350
550
450
550
450
550
Pembayaran bunga
20
30
30
18
12
-
Pembayaran angsuran
-
-
-
600
300
600
Jumlah Pengeluaran
4.370
5.380
5.280
7.268
6.662
7.450
Saldo Kas akhir bulan
230
225
1.020
422
680
615

Untuk mengevaluasi hasil perhitungan pada Tabel anggaran kas di atas, dicocokkan apakah saldo kas akhir bulan sama dengan saldo kas awal bulan berikutnya. Saldo kas akhir bulan merupakan saldo kas awal bulan berikutnya.


MANAJEMEN  SEKURITAS

1. Pengertian Sekuritas
Sekuritas (marketable security) merupakan surat-surat berharga yang segera dapat dijual untuk memperoleh uang kas. Marketable securities merupakan surat-surat berharga yang dapat diuangkan dengan mudah dan diperjualbelikan di pasar uang (bursa modal jangka pendek).
Motif penanaman modal dalam marketable securities ada tiga yaitu:
Pertama, motif transaksi (transaction motive) yaitu pembelian marketable securities yang akan dijual kembali untuk menutup pembayaran yang sudah diketahui sebelumnya. Sebelum saat pembayaran kewajiban perusahaan dapat menginvestasikan uang kas tersebut dalam marketable securities yang jatuh temponya sebelum pembayaran berbagai kewajiban.
Kedua, motif berjaga-jaga (precautionary motive) yaitu penanaman modal dalam marketable securities untuk mendapatkan sejumlah aktiva lancar yang dapat diuangkan dengan segera, untuk memenuhi berbagai pengeluaran yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Ketiga, motif spekulasi (speculatif motive) yaitu investasi dalam marketable securities karena tidak adanya investasi lain dari uang kas yang sementara waktu belum digunakan. Keadaan tersebut bukan suatu hal yang biasa terjadi. Investasi dalam marketable securities baru akan diuangkan jika perusahaan sudah menemukan investasi yang lebih tepat dari dana tersebut.
Ada beberapa alasan perusahaan memiliki surat berharga yaitu: untuk menggunakan dana sementara yang lebih guna diinvestasikan dalam surat berharga yang dijual oleh emiten (perusahaan yang mengeluarkan saham). Apabila suatu sekuritas telah diperjual-belikan di pasar sekunder (bursa efek), maka jual-beli sekuritas tersebut dilakukan oleh pialang (makelar). Karena pemilikan sekuritas ini hanya sementara saja (kurang dari 1 tahun), maka investasi pada surat berharga dimasukkan dalam investasi jangka pendek. Sekuritas tersebut dimiliki hanya dalam jangka pendek saja dengan maksud agar dapat segera diuangkan (dijual) jika sewaktu-waktu perusahaan memerlukan dana dalam operasinya. Sebenarnya, investasi pada sekuritas ada yang berjangka panjang (dimiliki lebih dari 1 tahun). Jika investasi pada sekuritas tersebut untuk jangka panjang, maka investasi tersebut dimasukkan sebagai investasi jangka panjang yang tertera pada pos investasi (investment) pada neraca.
Alasan lain perusahaan memiliki sekuritas ini adalah untuk menjaga likuiditas perusahaan dan memperoleh pendapatan dari investasi tersebut. Sekuritas memiliki sifat yang likuid (mudah diuangkan atau dijual), sehingga apabila perusahaan kekurangan uang kas maka sekuritas ini dapat segera dijual. Dalam hal ini berarti pemilikan sekuritas berfungsi sebagai pengganti saldo kas. Di samping itu, pemilikan sekuritas dimaksudkan untuk memperoleh pendapatan berupa keuntungan. Keuntungan tersebut dapat berupa dividen, bunga atau capital gain. Dividen akan diperoleh oleh perusahaan apabila sekuritas tersebut berupa saham dan dimiliki sampai waktu pembayaran dividen (biasanya dividen dibayarkan sekali dalam setahun). Sedangkan pendapatan bunga akan diperoleh jika perusahaan menginvestasikan dananya dengan membeli sekuritas berupa obligasi atau sertifikat deposito. Sedangkan capital gain akan diperoleh apabila hasil penjualan suatu sekuritas lebih tinggi daripada harga perolehannya.
2. Kriteria Pemilihan Sekuritas
Kriteria pemilihan sekuritas dapat dilihat dari berbagai macam pertimbangan, yaitu meliputi risiko keuangan (financial risk), risiko suku bunga (interest rate risk), risiko likuiditas (liquidity risk), risiko inflasi dan tingkat keuntungan yang diharapkan. Berbagai pertimbangan tersebut akan menentukan besarnya dana yang akan ditanamkan dalam sekuritas (surat berharga) jangka pendek. Perusahaan akan berusaha memperkecil risiko yang mungkin dihadapi dengan harapan memperoleh keuntungan (return) yang maksimal. Risiko keuangan merupakan risiko tidak kembalinya dana yang diinvestasikan pada sekuritas sesuai dengan yang diinginkan perusahaan. Ketidakpastian pengembalian dana yang telah diinvestasikan (beserta bunganya jika berupa obligasi) pada sekuritas sering sulit diprediksikan. Adakalanya peminjam menunggak dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Jika peminjam tidak dapat mengembalikan dananya, maka perusahaan akan mengalami kesulitan likuiditas, apalagi jika tidak memiliki cadangan kas yang cukup untuk biaya operasi perusahaannya.
Harga sekuritas yang berupa obligasi sangat terpengaruh dengan naik-turunnya suku bunga. Obligasi berjangka pendek relatif lebih stabil dibanding obligasi berjangka panjang dalam hubungannya dengan suku bunga ini. Apabila suku bunga naik, para investor cenderung mengalihkan dananya ke instrumen perbankan, sehingga harga obligasi akan turun. Dan sebaliknya jika suku bunga bank turun, maka investor akan beramai-ramai menginvestasikan dananya pada obligasi sehingga harga obligasi akan meningkat.
Risiko likuiditas sekuritas merupakan cepat lambatnya sekuritas yang bersangkutan dapat diperjual belikan. Sekuritas yang likuid berarti sekuritas tersebut cepat laku terjual. Apabila suatu sekuritas tidak likuid, maka perusahaan atau pihak yang memiliki sekuritas tersebut akan menurunkan harganya agar laku dijual. Penurunan harga ini mengakibatkan keuntungan yang diperoleh akan berkurang atau bahkan akan menderita kerugian jika penurunan harganya sampai melebihi harga perolehannya. Semakin likuid suatu saham, maka makin kecil risiko likuiditasnya karena sekuritas tersebut dapat diperjual belikan setiap saat.
Risiko inflasi pada prinsipnya hampir sama dengan risiko tingkat bunga. Kita tahu bahwa antara tingkat bunga dan inflasi memiliki hubungan yang erat. Tingkat suku bunga yang tinggi mengakibatkan tingkat inflasi yang tinggi. Inflasi merupakan kecenderungan naiknya harga barang-barang. Tingginya inflasi akan menurunkan daya beli masyarakat. Risiko inflasi ini mengakibatkan pada risiko penurunan daya beli. Pihak yang lebih merasakan dampak dari risiko inflasi ini adalah mereka yang memiliki surat berharga dengan pendapatan tetap seperti obligasi bila dibandingkan dengan surat berharga yang memiliki penghasilan meningkat (seperti saham). Oleh karena itu, saham biasa yang diperjual belikan di bursa efek memiliki stabilitas yang lebih aman dibandingkan obligasi yang memberikan pendapatan tetap. Pada situasi inflasi yang cenderung meningkat, perusahaan akan lebih untung bila melakukan investasi pada saham.
Kriteria terakhir yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan investasi pada sekuritas adalah memperhitungkan hasil yang diharapkan (yield) berupa keuntungan. Besarnya yield atau sering pula disebut return ini akan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain tersebut di atas yaitu adanya risiko keuangan, risiko tingkat bunga, risiko likuiditas, dan risiko inflasi atau risiko daya beli. Risiko-risiko tersebut akan mempengaruhi besarnya hasil yang akan diperoleh baik langsung maupun tidak langung. Risiko keuangan dan risiko likuiditas lebih dapat dikontrol daripada risiko tingkat bunga dan risiko inflasi. Hal ini karena risiko keuangan dan risiko likuiditas lebih banyak berhubungan dengan kemampuan perusahaan dalam mengelola keuangannya. Sedangkan risiko tingkat bunga dan risiko inflasi lebih banyak berhubungan dengan kondisi ekonomi secara keseluruhan. Hasil yang diharapkan (yield) oleh perusahaan dalam hubungannya dengan risiko-risiko yang mungkin terjadi mengharuskan perusahaan melakukan portofolio atau diversifikasi (penganekaragaman) investasi pada sekuritas. Perusahaan melakukan portofolio investasi berarti bahwa dana yang dimiliki oleh perusahaan ditanamkan pada sekuritas yang bermacam-macam. Perusahaan jangan sampai menanamkan dananya hanya pada satu jenis sekuritas saja, karena apabila sekuritas tersebut harganya “anjlok” maka perusahaan akan mengalami kerugian yang cukup besar. Perusahaan perlu mengikuti pepatah investasi “jangan tempatkan telor-telor yang anda miliki dalam satu keranjang saja” (don't put your eggs in one basket). Oleh karena itu perusahaan harus melakukan portofolio investasi. Tujuan portofolio ini adalah untuk memperkecil risiko yang mungkin dihadapi. Kita tahu bahwa dalam situasi ekonomi yang normal (stabil) maka antara risiko dan hasil memiliki hubungan yang linier. Semakin tinggi risiko semakin tinggi pula hasil yang diharapkan, dan sebaliknya. Oleh karena itu, dengan portofolio ini perusahaan berusaha untuk melakukan investasi dengan portofolio yang optimal. Portofolio yang optimal adalah portofolio yang menghasilkan risiko terkecil (minimal) dengan hasil tertentu atau memperoleh hasil yang maksimal dengan risiko tertentu. Dari kriteria pemilihan sekuritas dalam kaitannya dengan hasil yang diharapkan dan portofolio investasi tersebut di atas, secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut.

 







Gambar 1.  Skema Desain Pertimbangan Melakukan Protofolio Sekuritas


Dari Gambar 1. dapat dijelaskan bahwa risiko-risiko yang mungkin muncul dalam investasi sekuritas seperti risiko keuangan, risiko tingkat bunga, risiko likuiditas dan risiko inflasi akan mempengaruhi besarnya hasil (return) yang akan diperoleh. Perusahaan harus mengelola risiko dan hasil tersebut dengan berusaha untuk memperkecil risiko guna mencapai hasil yang diharapkan melalui diversifikasi (portofolio) sekuritas, yaitu menanamkan dananya pada berbagai sekuritas agar risiko dapat diperkecil. Dengan demikian, tujuan utama portofolio investasi adalah mengurangi atau memperkecil risiko investasi.
3. Alternatif Investasi Pada Sekuritas Jangka Pendek
Beberapa alternatif sekuritas yang sering diperjualbelikan di Amerika atau di Indonesia. Sekuritas-sekuritas tersebut antara lain seperti US. Treasury Bills, Federal Agency Securities, Negotiable Certificates of Deposit (CD), Commercial Paper, dan Money Market Mutual Fund. Sedangkan di Indonesia, beberapa surat berharga yang telah diperjualbelikan antara lain adalah Saham, Obligasi, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Sertifikat Deposito, Surat Berharga Pasar Uang, dan Commercial Paper.
Sekuritas Treasury Bills (disingkat T-Bills) yang diterbitkan di Amerika, merupakan instrumen hutang yang diterbitkan oleh pemerintah atau Bank Sentral atas unjuk dengan jumlah tertentu yang akan dibayarkan kepada pemegangnya pada tanggal yang telah ditetapkan. Oleh karena diterbitkan oleh pemerintah atau Bank sentral, maka T-Bills merupakan sekuritas yang aman dan sangat likuid. Di samping itu, risiko investasi pada   T-Bills sangat rendah atau bahkan hampir tanpa risiko karena diterbitkan oleh pemerintah. T-Bills ini merupakan sekuritas jangka pendek sehingga memiliki jangka waktu jatuh tempo satu tahun atau kurang. Pemerintah Amerika juga menerbitkan sekuritas yang disebut Federal Agency Securities. Sekuritas ini juga merupakan surat hutang dari perusahaan-perusahaan dan agen-agen untuk mendukung program pemerintah negara bagian di Amerika. Ada 5 agen besar yang memperjual-belikan sekuritas ini, yaitu Federal National Mortgage Association, The Federal Home Loan Banks, The Federal Land Banks, The Federal Intermediate Credit Banks dan The Banks for Cooperatives.
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) memiliki prinsip seperti T-Bills di Amerika. SBI ini merupakan surat berharga atas unjuk yang diterbitkan dengan sistem diskonto oleh Bank Sentral (Bank Indonesia) sebagai pengakuan hutang berjangka waktu pendek (kurang dari 1 tahun). Sertifikat Bank Indonesia diciptakan pertama kali pada Tahun 1970. Namun peran SBI tersebut tahun 1971 digantikan oleh sertifikat deposito yang boleh diterbitkan oleh bank. Adanya kebijakan moneter Tahun 1983, SBI terbit kembali sebagai instrumen yang digunakan untuk mengendalikan kebijakan moneter dalam operasi pasar seperti memperketat uang beredar dengan jalan menjual SBI tersebut.
Sertifikat deposito atau negotiable certificate of deposit (disingkat CD) merupakan instrumen keuangan yang diterbitkan oleh bank yang berupa deposito berjangka. Sekuritas ini biasanya merupakan sekuritas atas unjuk dan menyatakan sejumlah deposito tertentu dengan tingkat bunga dan jangka waktu tertentu pula. Sertifikat deposito ini memiliki perbedaan dengan deposito berjangka biasa. Perbedaan tersebut antara lain adalah bahwa CD ini dapat dipindah tangankan atau diperjual belikan sebelum jatuh tempo karena sertifikat deposito ini atas unjuk. Sedangkan deposito biasa yang merupakan deposito atas nama tidak dapat diperjual belikan melalui bank.
Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) merupakan surat-surat berharga jangka pendek yang dapat dijualbelikan secara diskonto dengan Bank Indonesia atau lembaga diskonto yang ditunjuk oleh Bank Indonesia. Surat Berharga Pasar Uang ini diperkenalkan pertama kali Tahun 1985. Penerbitan SBPU ini bertujuan untuk mengendalikan situasi moneter seperti halnya SBI. Apabila SB1 digunakan untuk melakukan kontraksi pasar (pengetatan uang), sebaliknya SBPU ini digunakan untuk melakukan ekspansi moneter. Apabila BI akan melakukan ekspansi, maka BI akan membeli SBPU yang diterbitkan oleh bank-bank dengan tingkat diskonto tertentu. Bank-bank akan menerbitkan SBPU ini jika ada suatu badan usaha atau masyarakat yang mengeluarkan surat aksep atau wesel untuk memperoleh pinjaman kepada bank tersebut. Surat aksep tersebut merupakan surat berharga yang dapat dijualbelikan oleh bank melalui lembaga diskonto yang ditunjuk (securities house). Akhirnya, lembaga diskonto dapat menjual surat berharga tersebut ke Bank Indonesia. Dengan dibelinya surat berharga tersebut, maka uang yang beredar akan bertambah.
Surat berharga yang banyak digunakan oleh pengusaha adalah Commercial Paper (disingkat CP). Commercial Paper merupakan surat kesanggupan membayar (promes) sejumlah uang tertentu pada saat jatuh tempo yang tidak ada jaminannya. Namun demikian, pada prakteknya CP ini disertai dengan jaminan seperti kemampuan perusahaan memperoleh keuntungan dan jaminan bank garansi. Surat ini diterbitkan oleh suatu perusahaan atau bank yang digunakan untuk memperoleh dana pinjaman jangka pendek, kemudian dijual kepada investor yang melakukan investasi dalam instrumen pasar uang. Jangka waktu CP ini kurang dari 1 tahun. Sebelum jangka waktu habis, CP ini dapat diperjualbelikan dengan diskon tertentu. Dalam prakteknya, mekanisme penerbitan CP adalah bahwa perusahaan yang membutuhkan dana akan menghubungi bank yang biasa bertindak sebagai pengatur (arranger). Perusahaan tersebut menyebutkan jumlah dana yang diperlukan. Kemudian perusahaan menerbitkan CP sejumlah dana yang dibutuhkan. Bank ini bertindak sebagai perantara antara investor dan penerbit CP tersebut. Tugas utama bank tersebut adalah menawarkan CP kepada investor atau para nasabahnya. Bank tidak mempunyai tanggung jawab apabila penerbit CP tersebut tidak mampu membayar kesanggupannya pada saat CP tersebut jatuh tempo. Risiko tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab para investor.
Ringkasan
Kas merupakan komponen aktiva lancar paling likuid, sedangkan surat-surat berharga jangka pendek atau marketable securities merupakan urutan berikutnya. Uang kas yang untuk sementara waktu belum digunakan dapat diinvestasikan dalam marketable securities agar dapat memperoleh penghasilan. Manajemen kas yang efisien didasarkan atas tiga strategi utama yaitu:  a) membayar utang dagang pada akhir tanggal jatuh tempo, b) mengumpulkan piutang secepat mungkin namun jangan sampai menyebabkan menurunnya volume penjualan, c) mengelola persediaan secara efisien atau meningkatkan inventory turnover. Budget kas sangat berguna dalam merencanakan dan mengambil keputusan yang berhubungan dengan kebutuhan kas, namun besarnya kebutuhan juga tergantung pada jumlah pengeluaran kas yang sudah dapat diketahui maupun yang tidak diduga sebelumnya. Ada beberapa cara mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks dalam menentukan kebutuhan minimum operating kas, yang lebih praktis dengan cara menghubungkan kas minimum dengan tingkat perputaran kas atau  cash turnover.
Perusahaan menanamkan uang kas yang untuk sementara waktu belum digunakan dalam marketable securities agar dapat memperoleh penghasilan. Motif dari investasi tersebut meliputi: motif transaksi, motif berjaga-jaga dan motif spekulasi. Realisasi penjualan marketable securities jangan sampai lebih kecil dari modal yang diinvestasikan, atau penghasilan yang diperoleh (yields) harus lebih besar dari biaya yang dikeluarkan dalam pembelian dan penjualan marketable securities.




Post a Comment
 

Sample text

ANDA BISA LANGSUNG DOWNLOAD FILE ASLI JIKA MENEMUKAN LINK DOWNLOAD, DIJAMIN AMAN!!!

Sample Text

 
Blogger Templates