Tes Darah
Tes darah (blood testing) merupakan salah satu program untuk mengontrol jenis
penyakit (disease control program) di
kawasan usaha peternakan ayam. Program ini harus dijadwalkan secara teratur dan
terjadwal, penyakit yang bisa dideteksi dengan tes darah adalah penyakit yang
disebabkan oleh pullorum, typhoid, dan mycoplasma. Tes darah juga dapat
mengetahui tingkat titer antibodi ayam sehingga berhubungan erat dengan program
vaksinasi yang sedang dijalankan. Tes lain untuk mengetahui organisme yang di
lapangan adalah swab test, exposure test, egg swab test, fluff test,
dan water test (Fadilah, 2005).
Sornnuwat et al (2009), Lakukan
pengecekan titer secara acak terhadap penyakit utama
untuk memonitor status imunitas ayam dan menggunakan informasi tersebut untuk
suatu rencana pencegahan penyakit yang sesuai pada grand parent dan parent stock
broiler dan layer. Jika ada tingkat
kematian yang tinggi, petugas yang berwenang harus diberitahu untuk
mengumpulkansampel untuk diagnosis dalam waktu 12 jam.
Pengambilan
sampel darah dilakukan pada bagian sayap ayam, tepat pada syarafnya.
Pengambilan sampel darah pada setiap pen adalah 2 sampel per pen sebanyak
1 ml. Tujuannya adalah untuk mengetahui titer antibody dari vaksinasi yang
telah dilakukan. Dikatakan proses vaksinasi berhasil apabila keadaan protektif
mencapai 80%. Pengujian dilakukan pada penyakit AI dan ND, sampel yang diuji
merupakan minyak darah yang sebelumnya didiamkan dalam botol (serum).
Serum
diperoleh dari darah yang didiamkan selama beberapa jam, untuk mendapatkan
serum yang baik, peletakkan botol darah dilakukan miring. Serum yang akan digunakan
keesokan harinya, perlu disimpan di lemari pendingin. Akoso (1998) menyatakan
cara penyimpanan serum yang terbaik adalah dengan membiarkan darah dalam tabung
yang diletakkan miring. Darah akan membeku antara 1 – 2 jam pada suhu ruangan
sebelum bekuan darahnya dapat diambil. Bila memungkinkan dapat dilakukan
pemusingan sebelum pengambilan bekuan. Serum dihisap dengan pipet atau semprit
dan ditaruh dalam tabung terpisah. Biasanya dari 1 ml darah dapat diperoleh 0,3
ml serum. Setiap spesimen ditandai secara jelas dengan diberi nomor dan dikirim
dalam keadaan dingin. Apabila pengiriman contoh ke laboratorium diperkirakan
akan memakan waktu 24 jam, serum perlu dibekukan dan kemudian baru dikirim
dalam keadaan baik.
![]() |
Hasil Blood Test
Pengukuran
titer antibodi ayam dilakukan oleh perusahaan sendiri, pengujian dilakukan 2
minggu setelah vaksinasi karena merupakan puncak titer vaksinasi. Akoso (1998) menyatakan bahwa untuk mengetahui
keberhasilan vaksinasi dapat dilakukan pengukuran (titer) antibodi pada ayam
antara 2 – 3 minggu setelah divaksin dengan mengirimkan serum darah ke
Laboratorium penyidikan penyakit hewan yang terdekat.
Perusahaan
juga mengirimkan sampel darah ke Laboratorium Kesehatan Hewan Malang yang
beralamat di Jln. Raya Pakis Jajar. Tujuannya adalah untuk memperoleh surat
jalan hewan, diantara penyakit yang diuji adalah AI, ND, dan Pullorum.
Bedah
Bangkai
Bedah bangkai
dilakukan setiap hari untuk melihat ciri-ciri penyakit ayam yang mati dan dilakukan oleh pegawai terlatih. Rata-rata
penyakit yang mati memiliki ciri-ciri penyakit ND, CRD, Dehidrasi, Distensi
Utery, dan cacingan.
Bedah bangkai
harus dilakukan setiap hari saat ada ayam yang mati atau ayam yang dimatikan
karena dicurigai terjangkit suatu penyakit. Tujuan bedah bangkai adalah untuk
mendiagnosis atau mengidentifikasi suatu penyakit yang menginfeksi ayam
tersebut dan hasilnya ayam dijadikan bahan pertimbangan menentukan penyakit
yang sedang menyerang suatu kawasan peternakan. Identifikasi penyakit yang menyerang
ayam dilakukan dengan cara melihat adanya perubahan di bagian organ tubuh
(Fadilah, 2005).
![]() |
Bedah
bangkai dilakukan pada seluruh ayam yang mati, kecuali ayam yang telah
membusuk. Bedah bangkai dilakukan pada tempat khusus dan dekat dengan sumur
penampungan bangkai. Akoso (1998) menyatakan bahwa pelaksanaan bedah bangkai
diupayakan di dekat tempat penguburan atau pemusnah bangkai. Disediakan sebuah
meja kecil untuk bedah bangkai yang sebelumnya dialasi dengan plastik atau
kertas. Tempat pembedahan harus diupayakan jauh dari kandang pemeliharaan, lalu
lintas hewan atau petugas dan gudang penyimpanan pakan untuk memperkecil
kemungkinan terjadinya penularan penyakit dari ayam yang diperiksa.
Peralatan yang digunakan untuk
bedah bangkai adalah pisau bedah, gunting bedah, pinset, dan alat pemotong
tulang. Cara pembedahan bangkai adalah bulu ayam dibasahi dengan larutan
desinfektan terlebih dahulu, pembedahan dilakukan di tempat khusus dan
menggunakan alas yang bersih, ayam diletakkan dengan posisi punggung di bawah
dan posisi kepala ayam mengarah ke luar dari pelaku pembedah bangkai, gunting
kedua kulit paha; kemudian paha ditekan kea rah atas perut (kaudolateral) hingga persendian tulang
paha (coxofemoralis) muncul, kulit di
bagian sternum dan perut dipotong
melintang; tegak lurus dengan tulang dada (sternum),
amati keadaan otot di sekitar paha dan dada, pemeriksaan organ dalam dapat
dilakukan dengan cara memotong otot perut; tulang rusuk sampai ke tulang clavicula coracoid; kemudian seluruh
bagian dada dibuka, pengamatan bagian dalam tubuh ayam dimulai dari kantung
udara; kemudian ke organ lainnya, jika ada perubahan di bagian organ tubuh
secara kasat mata (makroskopis); dilakukan identifikasi terhadap dugaan
penyakit yang menyerang ayam tersebut, selain pemeriksaan secara makroskopis;
untuk memastikan penyakit yang menyerang perlu dilakukan pemeriksaan secara
mikroskopis di laboratorium (Fadilah, 2005).
Revaksinasi
Kegiatan revaksinasi tidak terprogram dalam kegiatan vaksinasi, namun
revaksinasi dilakukan kondisional sesuai status kesehatan ternak. Status
kesehatan ternak diamatai dari hasil pengujian titer antibodi, setelah 2 minggu
pascavaksinasi yang merupakan puncak titer, kekebalan belum muncul maka
revaksinasi layak untuk dilakukan. Selain itu, juga melihat dari hasil bedah
bangkai, dimana ciri-ciri penyakit yang muncul dapat menjadi acuan.
Akoso (1998) berpendapat
apabila kegagalan vaksinasi terjadi, paramedis harus segera menghubungi dokter
hewan untuk melakukan analisis kegagalan vaksinasi. Dokter hewan akan menetukan
apakah vaksinasi ulang perlu dilakukan. Untuk mengetahui keberhasilan vaksinasi
dapat dilakukan pengukuran (titer) antibodi pada ayam antara 2 – 3 minggu
setelah divaksin dengan mengirimkan serum darah ke Laboratorium Penyidikan
Penyakit Hewan yang terdekat.
Revaksinasi dilakukan dengan
cara pemberian pada air minum, pelaksanaannya adalah torn harus dipastikan
bersih sebelum vaksinasi dilakukan, torn kemudian diisi air, diberikan
masing-masing 200 gram susu skim untuk setiap 1000 dosis vaksin, susu skim
harus diaduk dengan rata sampai tidak ada yang menggumpal, vaksin dicampurkan
dengan air kemudian dikocok dengan angka 8, vaksin harus dalam waktu 24 jam,
oleh karena itu penambahan air minum tidak diberikan sampai 2 jam setelah
pemberian vaksin.
![]() |
Vaksin ND Clone 30
Penyakit ND paling banyak
mendapat perhatian dari program vaksinasi karena memiliki tingkat mortalitas
yang tinggi jika ada ayam yang terserang. Tabbu (2000) menyatakan bahwa ND
merupakan penyakit pernafasan dan sistemik, yang bersifat akut dan mudah
menular yang disebabkan oleh virus yang menyerang berbagai macam unggas,
terutama ayam. Penyakit yang disebabkan oleh virus yang tergolong genus Avian Paramyxovirus dan famili Paramyxoviridae. Penularan virus
ND dapat terjadi langsung melalui ayam yang sakit, maupun tidak langsung,
melalui bahan, alat, atau pekerja yang tercemar virus tersebut. Cara penularan
virus ND dari ayam yang sakit ke ayam yang peka tergantung pada tempat
bereplikasi dari virus tersebut. Ayam yang menunjukkan gejala gangguan
pernafasan akan menyebabkan adanya udara bercampur titik air yang mengandung
virus ND, yang berasal dari mukus ayam sakit.
New Castle Diseases adalah
penyakit yang membahayakan bagi berbagai jenis unggas tanpa mengenal umur.
Penyakit ND berpengaru besar dalam produksi perunggasan di seluruh dunia. Di
Africa dan Asia merupakan kendala utama dalam perindustrian unggas maupun
peternakan rakyat. Peternak melakukan vaksinasi terhadap ND ataupun infeksi
virus lapang untuk mentrasfer antibodi terhadap embrio melalui kuning telur.
Anak ayam dari orang tua yang telah divaksin mampu terhindar dari resiko
virelent dan virus vaksin. Maternal
antibody merupakan pelindung dan penetralisir virus vaksin jika anak ayam
memiliki tingkat MA tinggi (Sa’idu et al, 2006).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar