BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Unggas adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang dimanfaatkan untuk
daging dan/atau telurnya serta jenis burung yang tubuhnya ditutupi oleh bulu.
Umumnya unggas merupakan bagian dari ordo Gallifores (seperti ayam dan kalkun),
dan Anseriformes (seperti bebek). Unggas adalah tipe
hewan yang berkembangbiak dengan cara bertelur.
Telur adalah suatu bentuk tempat penimbunan zat gisi seperti air,
protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan
embrio sampai menetas. Telur yang dapat ditetaskan adalah harus fertil atau
yang lazim disebut dengan telur tetas. Telur tetas merupakan telur yang sudah
dibuahi oleh sel jantan. Bila tidak dibuahi oleh sel jantan, telur tersebut
disebut telur infertil atau lazim disebut telur konsumsi, artinya telur
tersebut tidak dapat menetas jika ditetaskan, melainkan hanya untuk dikonsumsi
saja.
Unggas
termasuk hewan monogastrik, yaitu hewan yang berlambung tunggal tidak seperti
ternak ruminansia atau ternak poligastrik lainnya. Pada ternak ruminansia atau
poligastrik lambung terdidri dari empat bagian, yang mana terdapat banyak
mikroba yang membantu proses perncernaan. Tidak demikina dengan ayam yang hanya
memiliki lambung tunggal, sehingga peranan mikroba sangat sedikit untuk
degradasi makanan yang dicernanya.
Lambung unggas, semua alat pencernaan lainnya hampir sama antara hewan monogastrik dengan hewan ruminansia. Alat pencernaan pada unggas sedikit berbedapula dengan hewan monogastrik lainnya. Ukuran panjang saluran pencernaan secara keseluruhan pada unggas lebih kecil atau lebih pendek dari hewan mamalia.
Lambung unggas, semua alat pencernaan lainnya hampir sama antara hewan monogastrik dengan hewan ruminansia. Alat pencernaan pada unggas sedikit berbedapula dengan hewan monogastrik lainnya. Ukuran panjang saluran pencernaan secara keseluruhan pada unggas lebih kecil atau lebih pendek dari hewan mamalia.

2. Rumusan
Masalah
Perumusan masalah akan
memudahkan penulis dalam pengumpulan bahan, menyusun dan menganalisisnya,
sehingga penulisan dapat dilakukan secara mendalam dan sesuai dengan sasaran
yang telah ditentukan. Adapun perumusan masalah yang akan dibahas dalam
penulisan ini adalah:
a) Bagaimana
tingkat kelembaban yang baik untuk penetasan?
b) Selain
kelembaban penyebab apa yang menyebabkan telur tidak menetas?
3. Tujuan
Masalah
a) Mengetahui
kelembaban yang tepat untuk penetasan dalam mesin tetas
b) Mengetahui
penyebab utama kematian embrio
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Penetasan telur adalah usaha untuk
menetaskan telur unggas dengan bantuan mesin penetas telur yang sistem atau
cara kerjanya mengadopsi tingkah laku (behaviour) induk ayam atau unggas
lainnya selama masa mengeram. Perbanyakan populasi unggas biasanya ditempuh
dengan cara menetaskan telur yang sudah dibuahi. Penetasan telur ada dua cara,
yaitu melalui penetasan alami (induk ayam) dan melaui penetasan buatan (mesin
tetas). Kapasitas produksi unggas sekali pengeraman hanya sekitar 10 – 15 butir
telur, untuk mesin tetas sangat bervariasi tergantung kapasitas mesinnya
(Paimin, 2000).
Telur tetas yang digunakan dalam
penetasan harus berasal dari ayam yang masih dalam masa produktif yaitu umur 24
– 70 minggu, telur yang berasal dari ayam atau itik yang bertelur terlalu mudah
tidak baik untuk ditetaskan karena akan menghasilkan anak ayam berkualitas
rendah. Hal ini diakibatkan kondisi kualitas telur yang belum stabil pada saat
awal peneluran (Sabrani, 1981).
Kelembaban di
inkubator/setter 52-55% (setara dengan 28,9 oC-29,4 oC pada bola basah
thermometer), sedangkan kelembaban pada hitcher mula-mula 52-55%. Apabila 1/3
dari jumlah telur di dalam hicher telur retak, maka kelembaban dinaikan menjadi
70-75% (32,8-33oC) pada bola basah thermometer), untuk mendapatkan data
kelembaban di dalam setter maupun hitcher, maka setiap saat kain kaos yang terdapat
pada bola basah thermometer harus dibersihkan agar kain kaos tidak mengeras
karena kalsium, maka untuk mengecek thermometer bola basah dipakai air
minum/air destrilisasi. Untuk itu, dapat dipakai air hujan/aguades supaya tidak
terjadi gangguan kelembaban pada hicher. Gangguan kelembaban ini dapat
menyebabkan kegagalan pembukaan pintu hitcher pada saat telur mulai pecah kulit
dan anak ayam mulai menyampul (Sudaryani dan Santosa, 2003).
BAB
III
PEMBAHASAN
1. Kelembaban
untuk penetasan
Standar kebutuhan kelembaban relatif
inkubator untuk proses penetasan telur itik antara 36,05 ± 6,06 % RH sampai
dengan 76,50 ± 4,40 % RH. Kelembaban yang terlalu tinggi akan mencegah
terjadinya penguapan air dari dalam telur, disamping itu jika kelembaban yang
terlalu rendah dapat menyebabkan terjadinya penguapan air yang terlalu banyak
dari dalam telur sehingga akan terjadi kematian embrio. Kelembaban relatif juga
mempengaruhi proses metabolisme kalsium (Ca) pada embrio. Saat kelembabannya
tinggi, perpindahan Ca dari kerambang telur ke tulang-tulangnya dalam
perkembangan embrio akan lebih banyak. Pertumbuhan embrio dapat diperlambat
oleh keadaan kelembaban udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah,
selanjutnya pertumbuhan embrio optimum akan diperoleh pada kelembaban relatif
memdekati maksimum.
Dewasa ini penggunaan inkubator (mesin tetas)
sudah umum dan banyak digunakan serta sudah mudah diperoleh di beberapa tempat
yang menyediakannya, bahkan masyarakat sipil bisa membuat sendiri, meski demikian
banyak kasus yang dijumpai pada saat proses penetasan dilakukan itu tidak sempurna.
Salah satu penyebab hal ini adalah faktor pengaturan kelembaban relatif ruang
inkubator yang mempunyai pengaruh besar terhadap kualitas tetas. Apabila
kelembaban relatif (RH) terlalu rendah atau terlalu tinggi akan mempengaruhi
perkembangan embrio didalam telur dan laju perubahan air didalam telur selama
inkubasi bisa dikontrol melal ui pengaturan kelembaban relatif didalam
inkubator.
Kelembaban udara
yang diukur dengan hygrometer di dalam ruang inkubator haruslah dijaga pada
pembacaan menggunakan hygrometer pada kisaran 55-60% untuk 18 hari pertama di
incubator, dan 65-70% untuk 3 hari berikutnya. Hal ini menjadi penting karena
ke tidak akuratan dalam penerapan kelembaban udara dapat mempengaruhi secara
signifikan keberhasilan dalam penetasan telur. Bila kelembaban udara terlalu
rendah maka akan terjadi peningkatan penguapan udara dari kulit telur yang
kemudian dapat menyebabkan embrio ayam tidak kuat memecah kulit telur karena
lapisan/selaput bagian dalam telur menjadi keras. Dalam hal demikian maka
penambahan sebuah nampan dan diisi air diperlukan untuk mencapai kisaran angka
yang diperlukan. Sebaliknya jika kelembaban udaranya terlalu tinggi maka
penurunan kelembabannya dapat dengan cara mengganti nampan dengan yang lebih
kecil atau menutupi sebagian permukaan.
Sekitar 70% dari
berat sebutir telur adalah air. Karena itu adalah hal yang cukup penting untuk
memelihara tingkat kelembaban baik sebelum telur masuk ke dalam mesin penetas
atau selama telur berada di dalam mesin penetas agar dapat mencegah penguapan
air berlebih dari dalam telur. Penyimpanan telur tetas sebelum dimasukkan ke
dalam mesin penetas hendaknya dilakukan pada kelembaban relatif sekitar 35%,
sedang pada masa pengeraman di dalam mesin penetas usahakan berkitar 50% sampai
65% untuk telur ayam. Sedang pada proses penetasan telur itik/bebek membutuhkan
kelembaban 65 sampai 70% pada 25 hari pertama pengeraman dan selanjutnya 80-85%
sampai telur menetas. Air ini penting bagi lingkungan dalam sebutir telur agar
dimungkinkan pembuangan sisa-sisa metabolik embrio dan berperan sebagai suatu
regulator panas, seperti suatu radiator mobil yang memindahkan panas melalui
air.
2. Penyebab
kematian embrio
a)
Embrio
kekurangan nutrisi
Induk burung, terutama burung betina, bisa saja mengalami kekurangan
nutrisi pada salah satu atau beberapa jenis nutrisi seperti protein,
karbohidrat, lemak, serat kasar, vitamin, dan mineral. Tetapi malnutrisi yang paling berpengaruh terhadap
penetasan telur justru vitamin dan mineral. Hampir semua defisiensi vitamin berpotensi menyebabkan
kegagalan penetasan. Sedangkan jenis mineral yang cukup berpengaruh terhadap penetasan telur adalah
mangaan (Mn), seng (Zn), yodium (I), dan zat besi (Fe).
b)
Induk
betina sering meninggalkan sarang
Periode awal dan periode akhir penetasan / pengeraman telur membutuhkan
konsistensi suhu dan pengeraman. Apabila menggunakan mesin tetas, apalagi mesin
tetas otomatis, hal ini mungkin tak menjadi masalah. Tetapi pada penetasan
alami, atau telur dierami induknya, ada beberapa problem yang kerap terjadi,
sehingga telur tidak mendapat suhu yang stabil pada kedua periode kritis
tersebut. Masalah yang sering muncul adalah induk betina sering meninggalkan
telur, sehingga kemungkinan menetas makin kecil.
Penyebab utama induk betina sering meninggalkan sarang adalah karena
banyak kutu / tungau yang menempel pada bahan sarang, bahkan pada bulu-bulu dan permukaan kulit induk betina.
Terkadang induk tak sekadar meninggalkan sarang. Dalam kondisi kutu sudah
sangat banyak, induk betina biasanya akan stres dan merusak sarang serta
telur-telur di dalamnya. Tidak mengherankan apabila sejumlah penangkar sering
mengeluh mengapa induk betina membuang telurnya, atau bahkan mematuki telurnya
sendiri hingga pecah.
c)
Kesalahan dalam mengoperasikan mesin tetas
Mesin tetas memang memudahkan penangkar
dalam menetaskan telur-telur indukan burung yang ditangkarkan. Selain bisa
menampung telur dalam jumlah banyak, semua telur juga bisa menetas dalam waktu
bersamaan.Tetapi kesalahan dalam mengoperasikan mesin tetas dapat berakibat
fatal, misalnya seluruh telur gagal menetas. Jarang sekali kekeliruan dalam
mengoperasikan mesin tetas hanya akan mengakibatkan sebagian telur menetas dan
sebagian lagi tidak menetas.
d)
Banyak getaran di lokasi sarang
Bergetar
atau tidak sebenarnya bisa dideteksi dari kaca jendela. Kalau kaca terdengar
agak gemerutuk, baik karena kereta api atau mesin pabrik, berarti lokasi
kandang tak cukup nyaman untuk penangkaran burung. Getaran yang terlalu sering bisa membunuh embrio
yang sedang tumbuh. Kalau pun selamat sampai menetas, seringkali anaknya
mengalami kelumpuhan.
BAB
IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
a) Unggas adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang
dimanfaatkan untuk daging dan/atau telurnya serta jenis burung yang tubuhnya
ditutupi oleh bulu.
b) Kelembaban di inkubator/setter 52-55%
(setara dengan 28,9 oC-29,4 oC pada bola basah thermometer), sedangkan
kelembaban pada hitcher mula-mula 52-55%.
c) Penyimpanan telur tetas sebelum
dimasukkan ke dalam mesin penetas hendaknya dilakukan pada kelembaban relatif
sekitar 35%, sedang pada masa pengeraman di dalam mesin penetas usahakan
berkitar 50% sampai 65% untuk telur ayam.
d) Salah
satu penyebab hal ini adalah faktor pengaturan kelembaban relatif ruang inkubator
yang mempunyai pengaruh besar terhadap kualitas tetas.
2. Saran
a) Praktikan
lebih berhati-hati dalam steriliasi tangan saat proses peneropongan agar telur
tidak terkontaminasi oleh virus ataupun bakteri.
b) Praktikan
harus mengetahui dengan benar bagaimana perawatan mesin ataupun telurnya, agar
diperoleh hasil yang maksimal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar