Pages

Ads 468x60px

Labels

Jumat, 14 Februari 2020

Makalah Penetasan Telur, Hatching Egg


BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Unggas adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang dimanfaatkan untuk daging dan/atau telurnya serta jenis burung yang tubuhnya ditutupi oleh bulu. Umumnya unggas merupakan bagian dari ordo Gallifores (seperti ayam dan kalkun), dan Anseriformes (seperti bebek). Unggas adalah tipe hewan yang berkembangbiak dengan cara bertelur.

Telur adalah suatu bentuk tempat penimbunan zat gisi seperti air, protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan embrio sampai menetas. Telur yang dapat ditetaskan adalah harus fertil atau yang lazim disebut dengan telur tetas. Telur tetas merupakan telur yang sudah dibuahi oleh sel jantan. Bila tidak dibuahi oleh sel jantan, telur tersebut disebut telur infertil atau lazim disebut telur konsumsi, artinya telur tersebut tidak dapat menetas jika ditetaskan, melainkan hanya untuk dikonsumsi saja.
Unggas termasuk hewan monogastrik, yaitu hewan yang berlambung tunggal tidak seperti ternak ruminansia atau ternak poligastrik lainnya. Pada ternak ruminansia atau poligastrik lambung terdidri dari empat bagian, yang mana terdapat banyak mikroba yang membantu proses perncernaan. Tidak demikina dengan ayam yang hanya memiliki lambung tunggal, sehingga peranan mikroba sangat sedikit untuk degradasi makanan yang dicernanya.
Lambung unggas, semua alat pencernaan lainnya hampir sama antara hewan monogastrik dengan hewan ruminansia. Alat pencernaan pada unggas sedikit berbedapula dengan hewan monogastrik lainnya. Ukuran panjang saluran pencernaan secara keseluruhan pada unggas lebih kecil atau lebih pendek dari hewan mamalia.
Text Box: 1Organ reproduksi pada unggas betina adalah ovarium  dan oviduct untuk. Organ reproduksi utama  uggas jantan adalah testis. Organ reproduksi unggas betina bagian kiri yang berkembang normal dan berfungsi dengan baik, tetapi untuk bagian kanan mengalami rudimeter.
2.    Rumusan Masalah
Perumusan masalah akan memudahkan penulis dalam pengumpulan bahan, menyusun dan menganalisisnya, sehingga penulisan dapat dilakukan secara mendalam dan sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan. Adapun perumusan masalah yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah:
a)    Bagaimana tingkat kelembaban yang baik untuk penetasan?
b)   Selain kelembaban penyebab apa yang menyebabkan telur tidak menetas?
3.    Tujuan Masalah
a)    Mengetahui kelembaban yang tepat untuk penetasan dalam mesin tetas
b)   Mengetahui penyebab utama kematian embrio
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Penetasan telur adalah usaha untuk menetaskan telur unggas dengan bantuan mesin penetas telur yang sistem atau cara kerjanya mengadopsi tingkah laku (behaviour) induk ayam atau unggas lainnya selama masa mengeram. Perbanyakan populasi unggas biasanya ditempuh dengan cara menetaskan telur yang sudah dibuahi. Penetasan telur ada dua cara, yaitu melalui penetasan alami (induk ayam) dan melaui penetasan buatan (mesin tetas). Kapasitas produksi unggas sekali pengeraman hanya sekitar 10 – 15 butir telur, untuk mesin tetas sangat bervariasi tergantung kapasitas mesinnya (Paimin, 2000).
Telur tetas yang digunakan dalam penetasan harus berasal dari ayam yang masih dalam masa produktif yaitu umur 24 – 70 minggu, telur yang berasal dari ayam atau itik yang bertelur terlalu mudah tidak baik untuk ditetaskan karena akan menghasilkan anak ayam berkualitas rendah. Hal ini diakibatkan kondisi kualitas telur yang belum stabil pada saat awal peneluran (Sabrani, 1981).
Kelembaban di inkubator/setter 52-55% (setara dengan 28,9 oC-29,4 oC pada bola basah thermometer), sedangkan kelembaban pada hitcher mula-mula 52-55%. Apabila 1/3 dari jumlah telur di dalam hicher telur retak, maka kelembaban dinaikan menjadi 70-75% (32,8-33oC) pada bola basah thermometer), untuk mendapatkan data kelembaban di dalam setter maupun hitcher, maka setiap saat kain kaos yang terdapat pada bola basah thermometer harus dibersihkan agar kain kaos tidak mengeras karena kalsium, maka untuk mengecek thermometer bola basah dipakai air minum/air destrilisasi. Untuk itu, dapat dipakai air hujan/aguades supaya tidak terjadi gangguan kelembaban pada hicher. Gangguan kelembaban ini dapat menyebabkan kegagalan pembukaan pintu hitcher pada saat telur mulai pecah kulit dan anak ayam mulai menyampul (Sudaryani dan Santosa, 2003).

BAB III
PEMBAHASAN

1.    Kelembaban untuk penetasan
Standar kebutuhan kelembaban relatif inkubator untuk proses penetasan telur itik antara 36,05 ± 6,06 % RH sampai dengan 76,50 ± 4,40 % RH. Kelembaban yang terlalu tinggi akan mencegah terjadinya penguapan air dari dalam telur, disamping itu jika kelembaban yang terlalu rendah dapat menyebabkan terjadinya penguapan air yang terlalu banyak dari dalam telur sehingga akan terjadi kematian embrio. Kelembaban relatif juga mempengaruhi proses metabolisme kalsium (Ca) pada embrio. Saat kelembabannya tinggi, perpindahan Ca dari kerambang telur ke tulang-tulangnya dalam perkembangan embrio akan lebih banyak. Pertumbuhan embrio dapat diperlambat oleh keadaan kelembaban udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, selanjutnya pertumbuhan embrio optimum akan diperoleh pada kelembaban relatif memdekati maksimum.
Dewasa ini penggunaan inkubator (mesin tetas) sudah umum dan banyak digunakan serta sudah mudah diperoleh di beberapa tempat yang menyediakannya, bahkan masyarakat sipil bisa membuat sendiri, meski demikian banyak kasus yang dijumpai pada saat proses penetasan dilakukan itu tidak sempurna. Salah satu penyebab hal ini adalah faktor pengaturan kelembaban relatif ruang inkubator yang mempunyai pengaruh besar terhadap kualitas tetas. Apabila kelembaban relatif (RH) terlalu rendah atau terlalu tinggi akan mempengaruhi perkembangan embrio didalam telur dan laju perubahan air didalam telur selama inkubasi bisa dikontrol melal ui pengaturan kelembaban relatif didalam inkubator.



Kelembaban udara yang diukur dengan hygrometer di dalam ruang inkubator haruslah dijaga pada pembacaan menggunakan hygrometer pada kisaran 55-60% untuk 18 hari pertama di incubator, dan 65-70% untuk 3 hari berikutnya. Hal ini menjadi penting karena ke tidak akuratan dalam penerapan kelembaban udara dapat mempengaruhi secara signifikan keberhasilan dalam penetasan telur. Bila kelembaban udara terlalu rendah maka akan terjadi peningkatan penguapan udara dari kulit telur yang kemudian dapat menyebabkan embrio ayam tidak kuat memecah kulit telur karena lapisan/selaput bagian dalam telur menjadi keras. Dalam hal demikian maka penambahan sebuah nampan dan diisi air diperlukan untuk mencapai kisaran angka yang diperlukan. Sebaliknya jika kelembaban udaranya terlalu tinggi maka penurunan kelembabannya dapat dengan cara mengganti nampan dengan yang lebih kecil atau menutupi sebagian permukaan.
Sekitar 70% dari berat sebutir telur adalah air. Karena itu adalah hal yang cukup penting untuk memelihara tingkat kelembaban baik sebelum telur masuk ke dalam mesin penetas atau selama telur berada di dalam mesin penetas agar dapat mencegah penguapan air berlebih dari dalam telur. Penyimpanan telur tetas sebelum dimasukkan ke dalam mesin penetas hendaknya dilakukan pada kelembaban relatif sekitar 35%, sedang pada masa pengeraman di dalam mesin penetas usahakan berkitar 50% sampai 65% untuk telur ayam. Sedang pada proses penetasan telur itik/bebek membutuhkan kelembaban 65 sampai 70% pada 25 hari pertama pengeraman dan selanjutnya 80-85% sampai telur menetas. Air ini penting bagi lingkungan dalam sebutir telur agar dimungkinkan pembuangan sisa-sisa metabolik embrio dan berperan sebagai suatu regulator panas, seperti suatu radiator mobil yang memindahkan panas melalui air.
2.    Penyebab kematian embrio
a)    Embrio kekurangan nutrisi
Induk burung, terutama burung betina, bisa saja mengalami kekurangan nutrisi pada salah satu atau beberapa jenis nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak, serat kasar, vitamin, dan mineral. Tetapi malnutrisi yang paling berpengaruh terhadap penetasan telur justru vitamin dan mineral. Hampir semua defisiensi vitamin berpotensi menyebabkan kegagalan penetasan. Sedangkan jenis mineral yang cukup berpengaruh terhadap penetasan telur adalah mangaan (Mn), seng (Zn), yodium (I), dan zat besi (Fe).
b)      Induk betina sering meninggalkan sarang
Periode awal dan periode akhir penetasan / pengeraman telur membutuhkan konsistensi suhu dan pengeraman. Apabila menggunakan mesin tetas, apalagi mesin tetas otomatis, hal ini mungkin tak menjadi masalah. Tetapi pada penetasan alami, atau telur dierami induknya, ada beberapa problem yang kerap terjadi, sehingga telur tidak mendapat suhu yang stabil pada kedua periode kritis tersebut. Masalah yang sering muncul adalah induk betina sering meninggalkan telur, sehingga kemungkinan menetas makin kecil.
Penyebab utama induk betina sering meninggalkan sarang adalah karena banyak kutu / tungau yang menempel pada bahan sarang, bahkan pada bulu-bulu dan permukaan kulit induk betina. Terkadang induk tak sekadar meninggalkan sarang. Dalam kondisi kutu sudah sangat banyak, induk betina biasanya akan stres dan merusak sarang serta telur-telur di dalamnya. Tidak mengherankan apabila sejumlah penangkar sering mengeluh mengapa induk betina membuang telurnya, atau bahkan mematuki telurnya sendiri hingga pecah.
c)    Kesalahan dalam mengoperasikan mesin tetas
Mesin tetas memang memudahkan penangkar dalam menetaskan telur-telur indukan burung yang ditangkarkan. Selain bisa menampung telur dalam jumlah banyak, semua telur juga bisa menetas dalam waktu bersamaan.Tetapi kesalahan dalam mengoperasikan mesin tetas dapat berakibat fatal, misalnya seluruh telur gagal menetas. Jarang sekali kekeliruan dalam mengoperasikan mesin tetas hanya akan mengakibatkan sebagian telur menetas dan sebagian lagi tidak menetas.



d)   Banyak getaran di lokasi sarang
Bergetar atau tidak sebenarnya bisa dideteksi dari kaca jendela. Kalau kaca terdengar agak gemerutuk, baik karena kereta api atau mesin pabrik, berarti lokasi kandang tak cukup nyaman untuk penangkaran burung.  Getaran yang terlalu sering bisa membunuh embrio yang sedang tumbuh. Kalau pun selamat sampai menetas, seringkali anaknya mengalami kelumpuhan.

















BAB IV
PENUTUP

1.    Kesimpulan
a)    Unggas adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang dimanfaatkan untuk daging dan/atau telurnya serta jenis burung yang tubuhnya ditutupi oleh bulu.
b)   Kelembaban di inkubator/setter 52-55% (setara dengan 28,9 oC-29,4 oC pada bola basah thermometer), sedangkan kelembaban pada hitcher mula-mula 52-55%.
c)    Penyimpanan telur tetas sebelum dimasukkan ke dalam mesin penetas hendaknya dilakukan pada kelembaban relatif sekitar 35%, sedang pada masa pengeraman di dalam mesin penetas usahakan berkitar 50% sampai 65% untuk telur ayam.
d)   Salah satu penyebab hal ini adalah faktor pengaturan kelembaban relatif ruang inkubator yang mempunyai pengaruh besar terhadap kualitas tetas.
2.    Saran
a)    Praktikan lebih berhati-hati dalam steriliasi tangan saat proses peneropongan agar telur tidak terkontaminasi oleh virus ataupun bakteri.
b)   Praktikan harus mengetahui dengan benar bagaimana perawatan mesin ataupun telurnya, agar diperoleh hasil yang maksimal.








Tidak ada komentar:

 
 
Blogger Templates