BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengertian
tentang filsafat, filsafat ilmu, hubungan ilmu dengan ilmu-ilmu lain
aspek filsafat dalam ilmu pendekatan penelitian kuantitatif pendekatan
penelitian kualitatif pendekatan penelitian kaji tindak atau action research
pendekatan perbandingan tiga tipe penelitian. Tujuan dan dasar-dasar
penelitian, observasi dan generalisasi, sampling, data untuk pengambilan keputusan,
metode korelasi, desain penelitian sederhana dan kompleks, penulisan laporan
penelitian bidang lingkungan. Rancangan percobaan faktorial dan
analisisnya. Metode pengambilan keputusan dengan mempergunakan berbagai model
optimasi : Program linier, program dinamik, model antrian, model transportasi,
program non lilier, separable dan integer programming. Prinsip-prinsip
statistik dalam pengelolaan lingkungan hidup, interaksi antar variable,
menentukan tingkatan kepentingan berbagai variable, menyusun model secara
fungsional dan matematik.
Berfilsafat dapat juga bermula dari adanya suatu
kesadaran akan keterbatasan pada diri manusia. Berfilsafat kadang-kadang
dimulai apabila manusia menyadari bahwa dirinya sangat kecil dan lemah,
terutama dalam menghadapi kejadian-kejadian alam. Apabila seseorang merasa
bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada waktu mengalami penderitaan
atau kegagalan, maka dengan adanya kesadaran akan keterbatasan dirinya tadi
manusia mulai berfilsafat. Ia akan memikirkan bahwa di luar manusia yang
terbatas pasti ada sesuatu yang tidak terbatas yang dijadikan bahan kemajuan untuk
menemukan kebenaran hakiki.

B. Rumusan Masalah
Perumusan
masalah akan memudahkan penulis dalam pengumpulan bahan, menyusun dan
menganalisisnya, sehingga penulisan dapat dilakukan secara mendalam dan sesuai
dengan sasaran yang telah ditentukan. Adapun perumusan masalah yang akan
dibahas dalam penulisan ini adalah:
1.
Apa saja karakteristik
berfikir filsafati?
2.
Bagaimana hubungan
antara filsafat dengan kebudayaan dan lingkungan?
3.
Bagaiamankah kedudukan filsafat ilmu dan metodologi penelitian?
C. Tujuan Masalah
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:
1.
Mengetahui karakteristik berfikir filsafati.
2.
Mengetahui hubungan antara filsafat dengan kebudayaan dan lingkungan.
3.
kedudukan filsafat ilmu dan metodologi penelitian.

PEMBAHASAN
A. Karakteristik Berfikir Filsafati
Sifat menyeluruh berpikir filsafati. Seseorang yang berfilsafat dapat diumpamakan
sebagai seseorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang.
Atau seseorang yang berdiri di puncak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah di
bawahnya. Masing-masing ingin mengetahui hakikat dirinya atau menyimak
kehadirannya dalam kesemestaan alam yang ditatapnya.
Seorang ilmuan tidak akan pernah puas mengenai
ilmu hanya dari sisi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu
dalam konstelasi pengetahuan lainnya. Apa kaitan ilmu dengan moral, dengan
agama, dan apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya.
Sifat mendasar berfikir filsafati. Selain tengadah ke bintang-bintang, orang yang
berfikir filsafati juga membongkar tempat berpijak secara fundamental. Dia
tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu dapat disebut
benar? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Lalu
benar itu apa? Pertanyaan itu melingkar sebagai sebuah lingkaran, yang untuk
menyusunnya, harus dimulai dari sebuah titik, sebagai awal sekaligus sebagai
akhir. Lalu bagaimana menentukan titik awal yang benar?

Semua pengetahuan yang ada, dimulai dari spekulasi. Dari serangkaian
spekulasi dapat dipilih buah pikiran yang paling dapat diandalkan yang
merupakan titik awal dari penjajahan pengetahuan. Tanpa menerapkan kriteria
tentang apa yang disebut benar maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang
atas dasar kebenaran. Tanpa menetapkan apa yang disebut baik dan buruk, tidak
mungkin bicaara tentang moral. Tanpa wawasan apa yang disebut indah dan jelek,
tidak mungkin berbicara tentang kesenian.
B. Hubungan Antara Filsafat Dengan Kebudayaan dan
Lingkungan
Hubungan filsafati dengan kebudayaan. Kebudayaan berasal dari kata ke-budaya-an. Budaya berarti budi dan daya. Unsur budi adalah cipta (akal),
rasa, dan karsa (kehendak). Kebudayaan adalah hasil budaya atau kebulatan cipta
(akal), rasa dan karsa (kehendak) manusia yang hidup bermasyarakat. Antara
manusia dan masyarakat serta kebudayaan ada hubungan yang erat. Tanpa
masyarakat, manusia dan kebudayaan tidak mungkin berkembang layak. Tanpa
manusia tidak mungkin ada kebudayaan. Tanpa manusia tidak mungkin ada
masyarakat. Ujud kebudayaan ada yang rohani, misalnya adat istiadat dan ilmu
pengetahuan ada yang jasmani, misalnya rumah dan pakaian. Buku adalah
kebudayaan jasmani, akan tetapi isi buku merupakan kebudayaan rohani. Ilmu
pengetahuan merupakan unsur kebudayaan universal yang rohanni. Demikian juga
filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang terdalam. Oleh karena itu filsafat
termasuk kebudayaan.
Hubungan filsafat dengan lingkungan. Manusia, masyarakat dan kebudayaan mempunyai
hubungan yang erat, juga dengan alam sekitar atau lingkungan. Filsafat sebagai
hasil budaya manusia juga tidak lepas dari pengaruh alam sekitarnya. Itulah
sebabnya terdapat berbagai jenis kefilsafatan tertentu yang mempunyai ciri-ciri
tersendiri.
Hubungan filsafat dengan ilmu pengetahuan. Yang dicari oleh filsafat adalah kebenaran.
Demikian juga ilmu pengetahuan dan agama. Kebenaran dalam filsafat dan ilmu
pengetahuan adalah kebenaran akal, sedang kebenaran dalam agama adalah
kebenaran wahyu. Meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan mencari kebenaran
dengan akal, hasil yang diperoleh juga bermacam-macam. Terdapat bermacam-macam
agama, yang masing-masing mengajarkan kebenaran. Yang penting adalah bagaimana
agar aliran yang bermacam-macam dalam filsafat dan ilmu pengetahuan itu tidak
saling bertabrakan satu sama lain, tetapi dapat saling membantu dan bekerja
sama.
Hubungan filsafat dengan agama. Jika seseorang melihat sesuatu kemudian
mengatakan tentang sesuatu tersebut maka dikatakan bahwa ia telah mempunyai
pengetahuan tentang sesuatu. Pengetahuan adalah sesuatu yang tergambar dalam
pikiran manusia. Misal, ia melihat manusia dan mengatakan bahwa itu manusia.
Dikatakan ia telah mempunyai pengetahuan tentang manusia. Jika ia bertanya
lebih lanjut mengenai manusia itu, darimana asalnya, bagaimana susunannya, ke
mana tujuannya, dan sebagainya, maka akan diperoleh jawaban yang lebih rinci
mengenai manusia tersebut. Jika titik berat pertanyaan ditekankan pada susunan
tubuh manusia maka jawabannya akan berupa ilmu pengetahuan tentang manusia
dilihat dari susunan tubuhnya atau physical
anthropology. Jika ditekankan pada hasil karya manusia dilihat dari
kebudayaannya maka disebut cultural
anthropology. Jika ditekankan pada hubungan antara manusia yang satu dengan
yang lainya, maka jawabannya akan berupa ilmu pengetahuan manusia dilihat dari
hubungan sosialnya atau social
anthropology. Dari contoh tersebut disimpulkan bahwa pengetahuan yang telah
disusun atau disistematisasi lebih lanjut dan telah dibuktikan serta diakui
kebenarannya disebut ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tentang manusia.
Ilmu pengetahuan dan filsafat dapa membantu
menyampaikan lebih lanjut ajaran agama kepada manusia. Sebaliknya, agama dapat
membantu memberi jawaban terhadap problem yang tidak dapat dijawab oleh ilmu
pengetahuan dan filsafat. Meskipun demikian tidak berarti bahwa agama itu di
luar rasio, bahwa agama tidak rasional. Agama mengatur seluruh kehidupan
manusia untuk berbakti kepada Tuhan. Fakta atau realita atau hal yang dihadapi
adalah sama.
C. Kedudukan filsafat ilmu dan metodologi
penelitian.
Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang
sebenarnya, jika kebenaran yang sebenarnya itu disusun secara sistematis,
jadilah ia sistematika filsafat, sistematika filsafat itu biasanya terbagi atas
tiga cabang besar filsafat yaitu: teori pengetahuan, teori hakekat dan teori
nilai.
Isi filsafat ditentukan oleh obyek apa yang dipikirkan, obyek yang difikirkan oleh filosof ialah segala yang ada dan yang mungkin ada. Jadi filsafat sebagai suatu proses berfikir bebas, sistematis, radkal dan mencapai dataran makna yang mempunyai cabang ontology, epistemologi dan aksiologi.
Ontologi dinamakan sbagai teori hakekat, teori hakekat ini sangat luas, segala yang ada yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup penetahuan pengetahuan dan nilai (yang di carinya ialah hakekat penegetahuan dan hakekat nilai).
Isi filsafat ditentukan oleh obyek apa yang dipikirkan, obyek yang difikirkan oleh filosof ialah segala yang ada dan yang mungkin ada. Jadi filsafat sebagai suatu proses berfikir bebas, sistematis, radkal dan mencapai dataran makna yang mempunyai cabang ontology, epistemologi dan aksiologi.
Ontologi dinamakan sbagai teori hakekat, teori hakekat ini sangat luas, segala yang ada yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup penetahuan pengetahuan dan nilai (yang di carinya ialah hakekat penegetahuan dan hakekat nilai).
Di dalam ontology membahas dua bidang yaitu: a) kosmologi
membicarakan hakekat asal, hakekat susunan, hakekat berada, juga hakekat tujuan
kosmos. b) metafisik atau antropologi
secara etimologis berarti dibalik atau dibelakang fisika artinya ia ingin
mengerti atau mengetahui apa yang ada dibalik dari alam ini atau suatu yang
tidak nampak. Jadi kosmologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki hakekat
asal, susunan, tujuan alam besar, yang dibicarakan didalam cabang ini missal
hakekat kosmos, bagaimana caranya ia menjadi dan lain-lain. Mungkin ada orang
yang beranggapan bahwa teori kosmologi itu merupakan teori astronomi,
sebenarnya bukan, astronomi adalah sains sedangkan kosmologi adalah filsafat.
Sedangkan metafisika adalah membicarakan hakekat manusia dari segi filsafat,
umpamanya apa manusia itu? dan dari mana asalnya, apa akhir atau tujuannya?.
Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh
pengetahuan. atau suatu cabang filsafat yang membahas sumber, proses, syarat,
batas dan validitas dan hakekat pengetahuan. Sistematika dan logika sangat
berperan dalam epistemologi demikian pila metode-metode berfikir seperti
deduktif dan induktif.

BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Pengertian tentang filsafat,
filsafat ilmu, hubungan ilmu dengan ilmu-ilmu lain aspek filsafat dalam
ilmu pendekatan penelitian kuantitatif pendekatan penelitian kualitatif
pendekatan penelitian kaji tindak atau action research pendekatan
perbandingan tiga tipe penelitian.
2.
Kebenaran dalam filsafat dan ilmu pengetahuan adalah kebenaran akal,
sedang kebenaran dalam agama adalah kebenaran wahyu.
3.
Pengetahuan adalah sesuatu yang tergambar dalam pikiran manusia.
4.
Filsafat sebagai hasil budaya manusia juga tidak lepas dari pengaruh alam
sekitarnya.
5. Tugas utama filsafat adalah menetapkan
dasar-dasar yang dapat diandalkan.
6.
Metode merupakan prosedur atau cara
mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah sistematis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar