
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ternak unggas seperti ayam dipelihara untuk
dimbil telur dan dagingnya. Bila daging unggas tersebut dikonsumsi dalam jumlah banyak dan ada unggas yang matimaka
perlu adanya populasi pengganti. Agar populasi yang hilang akibat dikonsumsi
maupun mati dapat tergantikan, penetasan telur merupakan tahapan penting dalam
peternakan unggas. Agar dapat memepertahankan populasi ayanm bak petelur
ataupun pedaging, ditempuh dengan penetasan telur (Murtidjo,1992).
Telur yang dihasilkan oleh induk ayam tidak
semuanya berkualitas baik untuk ditetaskan. Memilih telur yang akan ditetaskan
merupakan hal yang sangat penting karena berpengaruh pada daya tetas dan anak ayam yang dihasilkan. Telur yang dihasilkan
oleh in duk ayam dinbagi menjadi dua jenis yaitu telur infertile ( telur konsumsi) dan telur fertile (telur tetas) (Sudrajad,1995).
|
B.
Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan hovabator?
2. Apa saja komponen dari hovabator
3. Bagaimana pengaplikasian hovabator?
4. Apa keunggulan dan kelemahan yang hovabator?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui apa itu hovabator
2.
Mengetahui
komponen-komponen hovabator
3.
Mengetahui
bagaimana pengaplikasian hovabator
4.
Mengetahui
keunggulan dan kelemahan hovabator
sebagai mesin tetas telur

PEMBAHASAN
A.
Pengertian Hovabator
Hovabator
merupakan mesin tetas telur yang berasal dari Amerika. Mesin penetas ini
didesain untuk menetaskan telur unggas ataupun reptil. Mesin ini berbentuk persegi dan sebagian besar berbahan
dasar styrofoam (Gambar. 1). Dilengkapi
dengan kipas
pemanas dengan satu ventilasi sebagai
sirkulasi panas. Mesin ini dilengkapi dengan termometer
dan hygrometer.
Memiliki kapasitas kurang lebih
42 telur ayam. Pada bagian
dasar terbuat dari plastik, di bagian bawahnya terdapat
lembaran jaring dari kawat dan
pada bagian bawahnya untuk menempatkan
air untuk memperoleh kelembaban. Hovabator ini didesain menyerupai tubuh
induk ayam sehingga telur dapat menetas normal seperti jika dierami oleh
induknya sendiri.

Gambar
1. Hovabator
|
Prinsip
kerja dari hovabator ini sama seperti
mesin tetas telur lainnya. Hovabator
ini dengan menggunakan pemanasan pada telur. Pemanasan pada telur ini dilakukan
pada suhu 100°F. Mesin ini dilengkapi dengan thermostat yang dapat digunakan mengatur suhu pada saat penetasan.
Satu hal yang harus diperhatikan adalah hanyalah tinggal menjaga kelembaban udara. Suhu dan
kelembaban udara merupakan salah satu faktor keberhasilan dari penetasan ini.
B.
Komponen Hovabator
Hovabator merupakan sebuah
inkubator dirancang untuk membuat suasana penetasan yang
menyerupai penetasan yang dilakukan oleh induk unggas (ayam,puyuh). Suasana itu
dibuat dengan cara membuat kondisi inkubator memiliki suhu yang menyerupai
panas tubuh atau suhu induk. Selain suhu hal yang diserupakan adalah kelembaban
inkubator agar proses penetasan dapat berjalan dengan baik.
Hovabator
ini juga dapat mengubah suhu ruangan menjadi suhu yang kita inginkan untuk
penetaan telur. Suhu ruangan berubah 10 °
F atau lebih akan
mengubah suhu dalam inkubator.
Lokasi mesin juga penting untuk menunjang keberhasilan operasi
mesin . Sebuah suhu kamar dari 70° sampai 80°F
sangat ideal bagi mesin untuk dapat beroperasi secara maksimal,
dan udara segar diperlukan
pula untuk menunjang keberhasilan mesin ini. Keberhasilan mesin juga
dipengaruhi oleh ada atau tidaknya sinar matahari yang langsung
mengarah ke inkubator.
Hovabator terdiri atas bagian tutup atau hovabator top yang terdiri atas pengatur panas, lampu, thermostat dan juga ventilasi beserta dengan alat
instalasinya. Bagian bawahnya berbentuk persegi, selain itu mesin ini
dilengkapi juga dengan thermometer, wire floor, plastic liner, owl clips
sebanyak 4 buah. Thermostat terdiri
dari beberapa bagian yaitu pengatur sekrup, pengatur penjepit, wafer, wing nut,snap switch dan bracket.


Gambar 2. Bagian atas hovabator Gambar 3. Bagian bawah hovabator
C.
Aplikasi
Hovabator
Cara
mengatur hovabator, pertama dengan
cara mengaitkan wire floor dengan plastic liner dengan penjepit (owl clips) lalu menempatkannya dalam hovabator bagian bawah. Menyusun plastic liner dan wire floor sehingga menyerupai palung namun dengan tetap memperhatikan
penambat kabel. Mengisi bagian tersebut dengan air hangat. Luas permukaan, kedalaman
akan berpengaruh pada kelembaban. Untuk menghindari kekeringan pada tempat
tersebut maka dapat dilakukan pengisian ulang.
Cara
mengatur thermostat pada hovabator yaitu dengan merangkai sekrup
dan sayap pemutar (wing nut). Memutar sekrup hingga benar-benar
berhenti pada wafer setelah itu memutar
sekrup dengan arah yang berlawanan dengan jarum jam untuk memberikan celah
sehingga cahaya dapat masuk. Setelah itu menyesuaikan suhu yang di inginkan
dengan cara kendurkan wing nut. Memutar sekrup berlawanan dengan arah jarum jam untuk
meningkatkan suhu
& searah jarum jam untuk menurunkan suhu inkubator. Lalu sekrup dikencangkan
kembali untuk menetapkan suhu setelah itu lampu akan menyala. Suhu yang
digunakan biasanya 100°F untuk sebagian besar telur. Biarkan inkubator
beroperasi selama ± ½ hari
untuk menstabilkan suhu sebelum telur diletakkan.
Suhu
harus diatur sesuai dengan kondisi penetasan pada normalnya. Apabila pengaturan
suhu yang terlalu tinggi maka akan mengakibatkan kematian embrio. Jika embrio
tidak mati maka suhu yang tinggi tersebut
dapat menyebabkan masalah di syaraf, hati, masalah di peredaran darah, ginjal
atau cacat pada kaki, kebutaan dan persoalan lainnya yang menjadilkan anak ayam
cacat, lemah dan kemudian mati. Jika suhu terlalu rendah maka akan mempengaruhi
embrio dalam hal perkembangan
organ-organnya yang berkembang tidak secara proporsional. Jika hal ini terus
terjadi maka akan menyebabkan gangguan pada hati, peredaran darah, jantung atau
perkembangan yang lambat kalaupun menetas nantinya.
Penetasan
dengan mesin ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan meletakkan telur
langsung pada kawat (wire floor)
ataupun dengan menggunakan pemutar telur otomatis (automatic turner). Untuk cara yang pertama yaitu dengan tahap
mengatur hovabator pada suhu 70°-75°F, lalu meletakkan telur diatas kawat
(wire floor) dengan sisi yang lancip
sedikit menghadap kebawah. Meletakkan thermometer
diatas telur untuk mengetahui suhu, setelah itu suhu thermostaat hingga thermometer
menunjukkan suhu 100°F. Telur harus
selalu dibolak-balik 2-3 kali dalam sehari selama kurang lebih tiga hari
sebelum telur menetas. Cara yang kedua yaitu dengan menggunakan automatic turner, caranya dengan
mengatur inkubator dengan menempatkan kawat (wire floor) di bagian bawah inkubator dan meletakkan thermometer di atas telur,secara
otomatis maka telur akan berputar hanya dengan memutar tuas.
Pemutaran
telur dilakukan dengan mengkondisikan telur pada posisi sudut 30-45 derajat
untuk tiap-tiap waktu yang ditetapkan secara berkesinambungan dan bergantian
sudutnya. Telur harus selalu diputar posisinya pada hari pertama sampai hari
ke-18 dalam proses penetasan telur. Tiga hari sebelum telur menetas, kita harus
memindahkan telur ke kawat (wire floor)
agar telur dapat menetas lalu tambahkan air sedikit untuk menghindari
kekeringan pada mesin. Kita harus memberi tanda pada telur agar lebih mudah
dalam proses pemutarannya. Hal ini untuk
mengetahui kapan telur nantinya akan menetas dan menentukan waktu peneropongan
untuk penentuan fertilitas, kantong udara dan penentuan pemindahan telur
sebelum menetas (- 3 hari).
Dua
atau tiga hari sebelum telur menetas kita sudah tidak boleh membolak-balikkan
telur, namun kita harus mengisi inkubator tersebut dengan air. Tujuan dari
penyediaan air di inkubator adalah untuk mencegah pengeringan yang berlebihan
dan juga membuat kelembaban yang alami untuk telur. Ukuran kelembaban yang
benar ditentukan oleh ukuran kantung udara dalamn telur pada saat proses candling. Tetap tutup inkubator sampai
semua telur menetas karena bila penutup sering dibuka akan mengakibatkan cepat
hilangnya kelembaban dalam inkubator. Jika
kelembaban udara tidak dijaga, hal ini dapat menyebabkan embrio telur
terperangkap didalam dan tidak bisa memecah kulit telur dan mati. Pemutaran
telur jika dilakukan dapat menyebabkan kehilangan posisi tetas (malposition)
dan hal ini juga menjadikan telur gagal menetas.
Setelah
menetas, anak ayam dibiarkan beberapa jam didalam mesin inkubator sampai kering
sempurna. Hal ini dapat dilihat dengan telah lepasnya bulu bulu halus yang
menyertai anak ayam waktu menetas dan berganti dengan bulu lembut yang menutupi
sempurna seluruh tubuh anak ayam tersebut. Setelah
anak ayam hasil penetasan tadi kering segera dipindahkan ke brooder agar dapat mendapat makanan dan
juga minum dan juga berada dalam suhu yang hangat. Penempatan makanan dan air
pada brooder tidak boleh didekat suhu
yang panas. Brooder harus kering dan
juga hangat, pada minggu pertama suhu dalam brooder
95°-100°F dan suhu harus diturunkan 5° setiap minggunya hingga mencapai
pada suhu 70°F sampai anak ayam tersebut hampir dewasa.
D. Keunggulan
dan Kelemahan Hovabator
Penetasan dengan
menggunakan mesin penetas telur lebih memudahkan bagi peternak, karena induk
telur tidak harus mengerami telurnya selama
21 hari dan membesarkan anak anak ayam setidaknya untuk jangka waktu 30 – 45
hari berikutnya sebelum sang induk betina mulai bertelur kembali. Namun, disisi
lain alat penetas telur juga tidak bisa bekerja secara maksimal seperti ketika
dierami oleh induknya sendiri karena naluri alamiah hewan lebih bisa maksimal
dibandingkan teknologi mesin.
Hovabator
merupakan mesin penetas yang moderen yang memiliki thermostaat yang dapat digunakan untuk menyesuaikan suhu inkubator
dengan mudah. Selain itu alat ini juga dilengkapi dengan automatic turner yang dapat memutar telur tanpa harus memutarnya
satu persatu. Namun, kesulitan dari alat penetas telur ini adalah harus dapat menyesuaikan
kelembaban agar telur tetap dalam keadaan dengan kelembaban yang sesuai. Untuk
menjaga hal tersebut kita harus sering menambahkan air untuk beberapa waktu
dengan tujuan untuk mengendalikan kelembaban.
Hovabator
ini memiliki tingkat kematian dini pada hari pertama
sampai dengan hari ke-18 yang rendah hanya sekitar 9%. Sedangkan untuk mesin
lain sekitar 23%. Namun hovabator ini
memiliki tingkat tidak menetasnya telur yang cukup tinggi yaitu sekitar 35%.
Tidak menetasnya telur ditemukan dalam bentuk pips internal. Hal ini mungkin
disebabkan karena terlalu besarnya lubang ventilasi pada mesin ini sehingga
banyak kelembaban yang hilang terutama pada saat telur akan menetas.

KESIMPULAN
Dari makalah diatas dapat disimpulkan bahwa :
1.
Hovabator merupakan alat penetas telur yang
sudah banyak digunakan. Alat ini dilengkapi dengan kipas pemanas sebagai
sirkulasi udara. Mesin ini juga dilengkapi dengan pemutar telur otomatis (automatic turner).
2.
Hovabator ini bekerja dengan melakukan
pemanasan pada suhu tertentu dan juga pemutaran pada telur sampai telur nanti
akan menetas.
3.
Penetasan dengan alat ini harus
memperhatikan kelembaban dan juga suhu bagi telur.
4.
Hovabator ini memiliki tingkat kematian dini pada telur 9% dan 35% tingkat tidak
menetasnya telur.
|

http://willowcreekfarm.wordpress.com/2014/03/18/hovabator-1500-vs-top-hatch-th130/.html diakses pada hari Sabtu, 4
Oktober 2014 pukul 09.08
http://www.glory-farm.com/mgt_telur/tetas/builtup.html diakses hari Sabtu, 4
Oktober 2014 pukul 09.20
http://www.gqf-incubators.com/egg_turners_trays.php diakses hari Sabtu,04
Oktober pukul 09.23
https://www.gqfmfg.com/pdf/Thermal%20Hova-bator%20%20 instruction.pdf
diunduh hari Sabtu,4 Oktober 2014 pukul 08.51
Murtidjo, B. A. 1992. Mengelola
Ayam Buras. Kanisius, Yogyakarta.
Sudrajad. 1995. Beternak Ayam Buras.
Penebar Swadaya, Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar