Enzim berperan sebagai biokatalisator yang merupakan zat yang dapat mempercepat reaksi pada tubuh makhluk hidup tetapi zat itu sendiri tidak ikut bereaksi. Adanya enzim dapat menurunkan jumlah energi yang diperlukan dalam suatu reaksi kimia pada sel tubuh. Enzim disintesis oleh sel. Macam aktifitas yang melibatkan enzim antara lain, respirasi, pertumbuhan, perkembangan, kontraksi otot, fotosintesis, pencernaan, fiksasi nitrrogen, pembentukkan urine, pengeluaran keringat, dll.
Struktur enzim
Enzim tersusun atas komponen sebagai berikut: apoenzim berupa protein, gugus protestik berupa non protein. Kofaktor berupa gugus anorganik dan koenzom berupa gugus organik. Gabungan antara apoenzim dan gugus protestik disebut juga holoenzim. Enzim yang utuh tersusun atas apoenzim dan koenzim yang disebut holoenzim.
Kerja enzim
Enzim bekerja dengan prinsip lock and key. Substrat sebagai kunci yang masuk dalam situs aktif pada enzim. Sedangkan enzim sebagai gembok. Keduanya membentuk ikatan kompleks enzim-substrat. Pada akhir reaksi, enzim akan kembali ke bentuk semula sedangkan substrat menjadi produk reaksi.
Senin, 02 Januari 2012
Minggu, 25 Desember 2011
Jenis Mikroba Rumen dan Klasifikasi
Di dalam rumen terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya.Mikroba rumen dapat dibagi dalam tiga grup utama yaitu bakteri, protozoa danfungi (Czerkawski, 1986). Kehadiran fungi di dalam rumen diakui sangatbermanfaat bagi pencernaan pakan serat, karena dia membentuk koloni padajaringan selulosa pakan. Rizoid fungi tumbuh jauh menembus dinding seltanaman sehingga pakan lebih terbuka untuk dicerna oleh enzim bakteri rumen.
Bakteri rumen dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat utama yangdigunakan, karena sulit mengklasifikasikan berdasarkan morfologinya.Kebalikannya protozoa diklasifikasikan berdasarkan morfologinya sebab mudahdilihat berdasarkan penyebaran silianya. Beberapa jenis bakteri yang dilaporkanoleh Hungate (1966) adalah : (a) bakteri pencerna selulosa (Bakteroidessuccinogenes, Ruminococcus flavafaciens, Ruminococcus albus, Butyrifibriofibrisolvens), (b) bakteri pencerna hemiselulosa (Butyrivibrio fibrisolvens,Bakteroides ruminocola, Ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna pati(Bakteroides ammylophilus, Streptococcus bovis, Succinnimonas amylolytica, (d) bakteri pencerna gula (Triponema bryantii, Lactobasilus ruminus), (e) bakteri pencerna protein (Clostridium sporogenus, Bacillus licheniformis).
Protozoa rumen diklasifikasikan menurut morfologinya yaitu: Holotrichsyang mempunyai silia hampir diseluruh tubuhnya dan mencerna karbohidrat yangfermentabel, sedangkan Oligotrichs yang mempunyai silia sekitar mulutumumnya merombak karbohidrat yang lebih sulit dicerna (Arora, 1989).
Selasa, 20 Desember 2011
Perkandangan dan Penyakit Unggas
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perkembangan teknologi akhir-akhir ini sangat membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaannya, seperti kehadiran teknologi terbaru pada sistem perkandangan ayam broiler, yaitu sistem kandang dengan ventilasi yang bisa diatur atau yang sering dikenal dengan sistem kandang tertutup (Close House). Sistem kandang tertutup merupakan kandang yang ramah lingkungan, karena bau dari polusi yang ditimbulkan kotoran ayam dapat dikurangi dengan bantuan kipas didalam kandang dan angka penyebaran penyakit melalui udara dapat ditekan seminimal mungkin, yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil produksi.
Berbagai jenis penyakit virus mudah sekali menular, dan banyak diantaranya sangat ditakuti peternak karena keganasannya. Sampai saat ini belum ditemukan obat yang efektif untuk menyembuhan penyakit yang disebabkan oleh virus.
Ayam mudah diternak, tapi sangat rawan terhadap penyakit. Di antara berbagai jenis penyakit menular yang banyak mengancam, penyakit menular yang disebabkan oleh virus merupakan jenis penyakit yang paling ditakuti. Virus lebih lembut dari bakteri, karena jasad renik inibisa tembus dari saringan bakteri. Ia tidak bisa dilihat dengan mikroskop biasa. Untuk melihatnya secara jelas diperlukan foto dengan mempergunakan mikroskop elektron.
Jumat, 18 November 2011
Kunjungan ke Peternak Kelinci
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kelinci merupakan salah satu ternak alternatif penghasil daging sebagai sumber protein karena kelinci mempunyai laju perhunbuhan dau perkembangbiakan yang relatif cepat. Kelinci mampu memproduksi daging yang berkadar lemak sangat rendah dan disamping itu kelinci juga merupakan ternak penghasil bulu yang potensial.
Kelinci merupakan hewan pseudoruminansia. Lambungnya tidak sespesifik seperti pada hewan ruminansia yang memilik 4 lambung (rumen, reticulum, omasum, abomasum). Lambung pada kelinci hanya ada satu, yang terbagi menjadi bagian kardiak, fundus dan pylorus.
Agar lebih mengerti mengenai spesifikasi kelinci ini, baik dalam hal nutrisi (pakan), reproduksi, perkandangan, dsb, maka dilangsungkanlah kegiatan kunjungan ke peternakan kelinci ini dalam rangka kegiatan praktikum ilmu nutrisi ternak nonruminansia.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kelinci merupakan salah satu ternak alternatif penghasil daging sebagai sumber protein karena kelinci mempunyai laju perhunbuhan dau perkembangbiakan yang relatif cepat. Kelinci mampu memproduksi daging yang berkadar lemak sangat rendah dan disamping itu kelinci juga merupakan ternak penghasil bulu yang potensial.
Kelinci merupakan hewan pseudoruminansia. Lambungnya tidak sespesifik seperti pada hewan ruminansia yang memilik 4 lambung (rumen, reticulum, omasum, abomasum). Lambung pada kelinci hanya ada satu, yang terbagi menjadi bagian kardiak, fundus dan pylorus.
Agar lebih mengerti mengenai spesifikasi kelinci ini, baik dalam hal nutrisi (pakan), reproduksi, perkandangan, dsb, maka dilangsungkanlah kegiatan kunjungan ke peternakan kelinci ini dalam rangka kegiatan praktikum ilmu nutrisi ternak nonruminansia.
Label:
Laporan Praktikum
Senin, 14 November 2011
Penelitian Sapi Perah
PENDAHULUAN
Sapi ini juga dikenal dengan nama Fries Holland atau sering disingkat FH Di Amerika bangsa sapi ini disebut Holstein, dan di negara-negara lain ada pula yang menyebut Friesien. Tetapi di Indonesia sapi ini popular dengan sebutan FH.Sapi FH menduduki populasi terbesar, bahkan hampir di seluruh dunia, baik di negara-negara sub-tropis maupun tropis.Bangsa sapi ini mudah beradaptasi ditempat baru. Di Indonesia populasi bangsa sapi FH ini juga yang terbesar diantara bangsa-bangsa sapi perah yang lain. Di Indonesia, kecuali menggunakan sapi FH murni sebagai sapi perah, khususnya di Jawa Timur.
Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorthorn (dari Inggris) Produksi susunya 5.126 kg per laktasi, Friesian Holstein (dari Belanda) Produksi susu sapi FH di Indonesia rata-rata 10 liter/ ekor per hari atau lebih kurang 30.050 kg per laktasi. , Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis) dengan produksi susu 2500 liter dalam 1 masa laktasi, Brown Swiss (dari Switzerland) Produksi susu rata-rata 5.939 per laktasi, Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia) Produksi susu rata-rata 7 liter per hari dengan kisaran produksi susu 1.445 - 2.647 kg per 330,5 hari. Namun ada yang berproduksi hingga 4.858 kg per 330,5 hari atau 16 liter per hari. Hasil survei menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.
Sapi ini juga dikenal dengan nama Fries Holland atau sering disingkat FH Di Amerika bangsa sapi ini disebut Holstein, dan di negara-negara lain ada pula yang menyebut Friesien. Tetapi di Indonesia sapi ini popular dengan sebutan FH.Sapi FH menduduki populasi terbesar, bahkan hampir di seluruh dunia, baik di negara-negara sub-tropis maupun tropis.Bangsa sapi ini mudah beradaptasi ditempat baru. Di Indonesia populasi bangsa sapi FH ini juga yang terbesar diantara bangsa-bangsa sapi perah yang lain. Di Indonesia, kecuali menggunakan sapi FH murni sebagai sapi perah, khususnya di Jawa Timur.
Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorthorn (dari Inggris) Produksi susunya 5.126 kg per laktasi, Friesian Holstein (dari Belanda) Produksi susu sapi FH di Indonesia rata-rata 10 liter/ ekor per hari atau lebih kurang 30.050 kg per laktasi. , Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis) dengan produksi susu 2500 liter dalam 1 masa laktasi, Brown Swiss (dari Switzerland) Produksi susu rata-rata 5.939 per laktasi, Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia) Produksi susu rata-rata 7 liter per hari dengan kisaran produksi susu 1.445 - 2.647 kg per 330,5 hari. Namun ada yang berproduksi hingga 4.858 kg per 330,5 hari atau 16 liter per hari. Hasil survei menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.
Rabu, 02 November 2011
Kebijakan Pemerintah Tentang Pengembangan Sapi Perah
Mulai tahun 1977, Indonesia mulai mengembangkan agribis sapi perah rakyat ditandai dengan SKB 3 Menteri. SKB ini merumuskan kebijakan dan pengembangan agribisnis sapi perah di Indonesia. Paling tidak aa dua dasar yang digunakan yakni agribis sapi perah dikembangkan melalui koperasi/KUD sapi perah dan pemasaran susu diatur oleh koperasi dan IPS. Dalam SKB itu tidak menyinggung sama sekali usaha sap perah swasta, mereka terabaikan.
Salah satu kebjakan produksi susu dalam negeri ini adalah desentralisasi pengembangan sapi perah. Sejak awal perkembangan sapi perah di Indonesia hanya terpusat di pulau jawa saja.
Selasa, 01 November 2011
Kebutuhan Susu Nasional
"Berdasarkan data Kementerian Pertanian , konsumsi susu di Indonesia saat ini masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga . Tingkat konsumsi susu di tanah air baru mencapai 11,9 liter per kapita setiap tahunnya," kata dirjen pengolahan dan pemasaran hasil pertanian , kementerian pertanian, Zaenal Bachruddin.
Dirjen Zaenal Bachruddin menyatakan minimnya tingkat konsumsi di Indonesia antara lain disebabkan masih rendahnya produksi susu nasional yang baru mencapai 26,5 persen dari kebutuhan. "Sisa kebutuhan nasional sebesar 73,5 persen masih harus diimpor ," katanya.
Jika konsumsi susu lokal baru mencapai 11,9 liter per kapita per tahun , maka catatan Tetra Pak Indonesia tahun 2010, memperlihatkan konsumsi Thailand mencapai 31,7 liter.
Impor susu sebagai bahan baku Industri Pengolahan Susu (IPS) dari Australia semakin gencar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor susu pada Januari-April 2011 sebesar US$ 30,05 juta. Nilai ini naik 96,48% dibandingkan 4 bulan pertama 2010 yang sebesar US$ 15,29.
Teguh Boediyana, Ketua Dewan Persusuan Nasional menuturkan, kenaikan nilai ini banyak ditopang oleh kenaikan harga susu dunia. Pada Februari lalu misalnya, harga susu bubuk skim menembus US$ 3.800 per ton.
Senin, 31 Oktober 2011
Situs Penyedia Domain Terpercaya
Ada banyak situs yang menjual domain, baik dalam maupun luar negeri. Setiap situs memiliki kekuranganjauh dan kelebihan masing-masing. Namun, jika ditanya soal harga, setiap situs tidak jauh berbeda. Dan biasanya situs yang menetapkan harga mahal, memiliki beberapa fitur tambahan. Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih domain adalah kemudahan berkomunikasi dengan costumer service.
Jumat, 14 Oktober 2011
Proses pembentukkan telur, zat-zat dan hormon yang mempengaruhi
Telur pada unggas mengandung banyak zat-zat makanan untuk persediaan perkembangbiakan embrio pada masa penetasan. Telur tidak ubahnya susu pada mamalia adalah hasil sekresi dari sistem reproduksi dan mekanisme endokrin, metabolik dan kimia faali. Bertelur sama dengan mekanisme laktasi. Telur unggas lebih besar dari pada telur mamalia, karena telur unggas harus mengandung makanan untuk perkembangan embrionik selama pertumbuhan di luar tubuh induk. Embrio unggas sangat tergantung pada zat makanan yang terdapat dalam telur. Karena itu lemak dari sudut kalori lebih pekat dari pada gula, maka telur lebih kaya akan lemak dari pada gula (dibandingkan dengan susu) (Anggorodi, 1984). Penyusun utama kuning telur adalah air, lipoprotein, protein, mineral, dan pigmen. Protein kuning telur diklasifikasikan menjadi dua kategori:
1. Livetin, yakni protein plasmatik yang terakumulasi pada kuning telur dan disintesis di hati hampir 60% dari total kuning telur.
Selasa, 04 Oktober 2011
Jurnal dan Artikel Miologi Kaki Depan dan Belakang
Dalam tubuh ternak terdapat tiga macam jaringan otot, yaitu ; otot polos, otot seran involunter (tidak dipengaruhi kehendak), dan oto seran valunter (dipengaruhi kehendak). Otot polos (otot involunter, viseral, bukan seran lintang) tidak memperlihatkan adanya garis-garis melintang dan terdapat pada sistem-sistem yang menjalankan fungsinya secara otomatis. Otot polos terdapat pada dinding traktus digestivus yang berperan dalam menggerakkan dan mencampur makanan dari lambung ke intestinum, tanpa dipengaruhi oleh kehendak. Dinding sistem urogenital mengandung banyak otot polos. Diameter pembuluh darah dan jumlah aliran darah pada suatu daerah, ditentukan oleh otot polos yang tetap stabil tanpa membutuhkan rangsangan saraf.
Langganan:
Postingan (Atom)
