Pages

Ads 468x60px

Labels

Selasa, 23 Juni 2015

Siklus Reproduksi Berbagai Macam Mikroorganisme

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.                 Latar Belakang
Makhluk hidup yang ukurannya kecil sering disebut sebagai mikroorganisme atau jasad renik. Jasad renik disebut sebagai mikroorganisme bukan hanya karena ukurannya yang kecil, sehingga sukar dilihat dengan mata biasa, tetapi juga pengaturan kehidupannya yang lebih sederhana dibandingkan dengan jasad tingkat tinggi. Mata biasa tidak dapat melihat jasad yang ukurannya kurang dari 0,1 mm. Selmikroba umumnya hanya dapat dilihat dengan alat pembesar atau mikroskop, walaupun demikian ada mikroba yang berukuran besar sehingga dapat dilihat tanpa alat pembesar, misalnya fungi. Secara garis besar makhluk hidup digolongkan menjadi dunia tumbuhan (plantae) dan dunia binatang (animalia). Makhluk hidup yang ukurannya besar dengan mudah dapat digolongkan kedalam plantae atau animalia, tetapi mikroorganisme yang ukurannya sangat kecil ini sulit untuk digolongkan ke dalam  kingdom plantae atau animalia. Selain karena ukurannya, sulitnya penggolongan juga disebabkan adanya mikroba yang mempunyai sifat antara plantae dan animalia.


Perkembangbiakan mikroorganisme sendiri sangatlah bervariasi. Ada yang  dapat berkembang biak secara aseksual maupun seksual. Perkembangbiakan mikroorganisme pada dasarnya sama dengan perkembangbiakan makhluk hidup yang lain,  yakni membutuhkan tempat dan kondisi lingkungan yang sesuai agar dapat bereproduksi secara optimal. Kondisi yang  sesuai ini dicapai dengan berbagai metode muilai dari yang sederhana sampai yang sulit, ada yang  harus diatur sedemikian rupa sehingga baru dapat tumbuh, ada pula yang dengan kondisi pada umumnya sudah dapat tumbuh.
Berbagai kemungkinan potensi reproduksi mikroba yang dapat terjadi di berbagai lingkungan membuat kita harus waspada ketika mikroorganisme yang  tumbuh berpotensi untuk merugikan atau membahayakan kehidupan manusia. Kita  perlu mempelajari berbagai siklus reproduksi pada berbagai jenis mikroorganisme (bakteri, cendawan, protozoa, algae dan virus) ini dengan tujuan agar  dapat memanfaatka nmikroorganisme terkait siklus reproduksinya serta dapat mengurangi resiko yang ada terhadap jenis-jenis bakteri yang merugikan.
1.2.                 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
¾                     Bagaimana proses reproduksi pada bakteri?
¾                     Bagaimana proses reproduksi pada cendawan/fungi?
¾                     Bagaimana proses reproduksi pada protozoa?
¾                     Bagaimana proses reproduksi pada algae?
¾                     Bagaimana proses reproduksi pada virus?
1.3.                 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
¾                     Untuk mengetahui proses reproduksi pada bakteri?
¾                     Untuk mengetahui proses reproduksi pada cendawan/fungi?
¾                     Untuk mengetahui proses reproduksi pada protozoa?
¾                     Untuk mengetahui proses reproduksi pada algae?
¾                     Untuk mengetahui proses reproduksi pada virus?



1.4.                 Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah:
¾                     Bagi mahasiswa diharapkan makalah ini dapat memberikan gambaran tentang proses reproduksi pada berbagai mikroorganisme seperti bakteri, cendawan, protozoa, algae dan virus.


















BAB II
TINJUAN PUSTAKA
A.    Reproduksi Bakteri
Bakteri bereproduksi secara vegetatif dengan membelah diri secara biner. Pada lingkungan yang baik bakteri dapat membelah diri tiap 20 menit. Pembuahan seksual tidak dijumpaipada bakteri, tetapi terjadi pemindahan materi genetik dari satu bakteri ke bakteri lain tanpa menghasilkan zigot. Peristiwa ini disebut proses paraseksual. Ada tiga proses paraseksual yang telah diketahui, yaitu transformasi, konjugasi, dan transduksi. (Anonimous, 2011)
Menurut Pelczar (2008) Proses reproduksi paling umum di dalam daur pertumbuhan yang biasa pada populasi bakteri ialah pembelahan biner melintang. Pembelahan biner melintang adalah suatu proses reproduksi aseksual; setelah pembentukan dinding sel melintang maka satu sel tunggal membelah menjadi dua sel, dan disebut sel anak.
            Pembagian sel dengan cara membelah umum terjadi pada semua sel yang sedang tumbuh aktif pada tumbuhan dan hewan. Namun, pada tumbuhan dan hewan multiselular, pembagian sel secara aseksual hanya mengakibatkan pertumbuhan individu tumbuhan atau hewan itu. Pada bakteri, proses tersebut mengakibatkan terbentuknya dua organisme baru; masing- masing lalu dapat mengulangi lagi proses tersebut, sebagaimana tampak pada gambar 6-4.

B.     Reproduksi Fungi
Menurut Pelczar (2008) Spora aseksual, yang berfungsi untuk menyebarkan spesies dibentuk dalam jumlah besar. Ada banyak macam spora aseksual:
1.      Konidiospora atau konidium. Konidium yang kecil dan bersel satu disebut mikrokonidium. Konidium yang besar lagi bersel banyak dinamakan makrokonidium. Konidium dibentuk diujung atau disisi suatu hifa.
2.      Sporangiospora. Spora bersel satu ini terbentuk di dalam kantung yang disebut sporangium di ujung hifa khusus (sporangiosfor). Aplanospora ialah sporangiospora noonmotil. Zoospora ialah sporangiospora yang motil, motilitasnya disebabkan oleh adanya flagelum.
3.      Oidium atau artrospora. Spora bersel satu ini terbentuk karena terputusnya sel – sel hifa.
4.      Klamidospora. Spora bersel satu yang berdinding tebal ini sangat resisten terhadap keadaan yang buruk, terbentuk dari sel – sel hifa somatik.
5.      Blastospora. Tunas atau kuncup pada sel 0 sel khamir disebut blastopora.
Spora seksual, yang dihasilkan dari peleburan dua nukleus, terbentuk sedikit lebih jarang, lebih kemudian, dan dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan spora aseksual. Juga, hanya terbentuk dalam keadaan tertentu.
Seksual :
1.      Askospora. Spora bersel satu ini terbentuk didalam pundi atau kantung yang dinamakan askus. Biasanya terdapat delapan askospora didalam setiap askus.
2.      Basidiospora. Spora bersel satu ini terbentuk diatas struktur berbentuk gada yang dinamakan basidium.
3.      Zigospora. Zigospora adalah spora besar berdinding tebal yang terbentuk apabila ujung – ujung dua hifa yang secara seksual serasi, disebut juga gametangia, pada beberapa cendawan melebur.
4.      OOspora. Spora ini terbentuk didalam struktur betina khusus yang disebut ooginium. Pembuahan telur, atau oosfer, oleh gamet jantan yang terbentuk didalam anteredium mengjasilkan oospora. Dalam setiap oogonium dapat ada satu atau dua beberapa oosfer.
Meskipun suatu cendawan tunggal dapat membentuk spora aseksual dan seksual dengan beberapa cara pada waktu yang berlainan dan dalam keadaan yang berbeda, struktur serta metode pembentukan spora-spora itu cukup konstan untuk digunakan dalam identifikasi dan klasifikasi.
C.    Reproduksi Protozoa
Protozoa berkembang biak melalui berbagai proses aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual berlangsung dengan pembelahan sel atau pembagian sel. Anak – anak sel dapat berukuran sama atau tak sama. Jika ada dua sel anak, maka proses pembagiannya ialah pembelahan biner, jika terbentuk banyak sel maka berlangsung pembelahan bahurangkap (multiple fission). Pembelahan dapat terjadi secara melintang atau secara membujur sepanjang selnya. Bertunas (berkuncup, yaitu suatu bentuk reproduksi aseksual, juga umum.
            Reproduksi seksual terjadi pada berbagai kelompok protozoa. Konjugasi, yang merupakan penyatuan fisik sementara antara dua individu yang dibarengi dengan pertukaran bahan nukleus, hanya dijumpai pada siliata.
            Beberapa protozoa mempunya daur reproduksi yang rumit, sebagian dari padanya harus berlangsung dalam inang vertebrata sedangkan sebagian lagi harus terjadi dalam inang – inang lain. Sebagai contoh, banyak spesies tripanosoma menghabiskan sebagian daur hidupnya dalam sistem peredaran inang – inang vertebrata dan sebagian lagi dalam avertebrata pengisap darah, seperti misalnya serangga Pelczar (2008).


D.    Reproduksi Algae
Alga bereproduksi melalui dua cara yaitu seksual dan aseksual. Reproduksi secara aseksual terjadi melalui pembelahan sel, fragmentasi, dan pembentukan zoospora. Reproduksi secara seksual terjadi melalui isogami dan oogami.

a.      Reproduksi Aseksual
Reproduksi aseksual terjadi melalui pembelahan sel menghasilkan dua sel anak yang masing-masing akan menjadi individu baru. Reproduksi dengan cara pembelahan sel umumnya terjadi pada alga bersel tunggal. Alga berbentuk koloni tanpa filamen atau yang berbentuk filamen umumnya bereproduksi melalui fragmentasi. Fragmentasi adalah terpecah-pecahnya koloni menjadi beberapa bagian.
Selain melalui pembelahan sel dan fragmentasi, alga juga dapat bereproduksi melalui pembentukan zoospora. Zoospora merupakan sel tunggal yang diselubungi oleh selaput dan dapat bergerak atau berenang bebas dengan menggunakan satu atau lebih flagela. Setiap zoospora merupakan calon individu baru.

b.      Reproduksi Seksual
Reproduksi seksual melibatkan peleburan dua gamet untuk membentuk zigot dan tumbuh menjadi individu baru. Terdapat dua tipe reproduksi seksual, yaitu isogami dan oogami.
Pada tipe isogami, gamet jantan dan gamet betina berukuran sama besar dan umumnya dapat bergerak. Jika zigot hasil peleburan gamet betina dengan jantan mengalami dormansi, maka disebut zigospora.
Pada tipe oogami, ukuran gamet jantan berbeda dengan ukuran gamet betina. Gamet betina atau telur berukuran besar dan tidak bergerak, sedangkan gamet jantan berukuran kecil dan dapat bergerak. Jika zigot yang terbentuk tidak berkecambah tetapi mengalami dormansi, maka disebut oospora (Raven et al. 2005; Solomon et al. 2005).

E.     Reproduksi Virus
Untuk berkembang biak virus memerlukan tempat atau lingkungan yang hidup. Oleh karena itu, virus menginfeksi sel bakteri, sel hewan, atau sel tumbuhan untuk bereproduksi.
Ada dua macam cara virus menginfeksi bakteri, yaitu secara litik an secara lisogeni. Pada infeksi secara litik, virus akan menghancurkan sel induk setelah berhasil melakukan reproduksi, sedangkan pada infeksi secara lisogenik,virus tidak menghancurkan sel bakteri tetapi virus berintregasi dengan DNA sel bakteri, sehingga jika bakteri membelah atau berkembang biak virus pun ikut membelah.
Pada prinsipnya cara perkembangbiakan virus pada hewan maupun pada tumbuhan mirip dengan yang berlangsung pada bakteriofag, yaitu melalui fase adsorpsi, sintesis, dan lisis. (Anonimous, 2011)

















BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
REPRODUKSI DAN PERTUMBUHAN MIKROORGANISME

A. REPRODUKSI MIKROORGANISME
Perkembangbiakan mikroorganisme dapat terjadi secara seksual dan aseksual. Yang paling banyak terjadi adalah perkembangbiakan aseksual. Pembelahan aseksual terjadi dengan :

1. Pembelahan biner ( binary fission).
pembelahan biner adalah pembelahan dari satu sel induk membelah menjadi dua sel
anak. Kemudian masing-masing sel anak membentuk dua sel anak lagi dan seterusnya.
2. Pembelahan ganda (multiple fission).
Pembelahan ganda (Multiple fission) adalah pembelahan satu sel induk menjadi beberapa sel anak. Contohnya pada Paramaecium sp.
3. Perkuncupan (budding)

A.1 Reproduksi Pada Bakteri
Reproduksi Bakteri ialah perkembang-biakan bakteri. Bakteri mengadakan  pembiakan dengan dua cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Pembiakan secara  aseksual dilakukan dengan pembelahan, sedangkan pembiakan seksual dilakukan dengan  cara transformasi, transduksi , dan konjugasi. Namun, proses pembiakan cara seksual  berbeda dengan eukariota lainnya. Sebab, dalam proses pembiakan tersebut tidak ada  penyatuan inti sel sebagaimana biasanya pada eukarion, yang terjadi hanya berupa  pertukaran materi genetika ( rekombinasi genetik ).

Berikut ini beberapa cara pembiakan bakteri:
1. Vegetatif/Aseksual
a.  Pembelahan Biner
Perbanyakan sel dengan cara ini, kecepatan pembelahan sel ditentukan dengan  waktu generasi. Waktu generasi adalah waktu yang dibutuhkan oleh sel untuk  membelah , dimana dalam pembelahannya bervariasi tergantung dari spesiesdan 3 kondisi pertumbuhan. Pembelahan biner yang terjadi pada bakteri adalah pembelahan biner melintang yaitu suatu proses reproduksi aseksual, setelah pembentukan dinding sel melintang, maka satu sel tunggal membelah menjadi
dua sel yang disebut dengan sel anak. Pembelahan Biner dapat dibagi atas tiga fase, yaitu sebagai berikut:

1. Fase pertama, sitoplasma terbelah oleh sekat yang tumbuh tegak lurus.
2. Fase kedua, tumbuhnya sekat akan diikuti oleh dinding melintang.
3. Fase ketiga, terpisahnya kedua sel anak yang identik.

Ada bakteri yang segera berpisah dan terlepas sama sekali. Sebaliknya, ada pula bakteri yang tetap bergandengan setelah pembelahan, bakteri demikian merupakan bentuk koloni. Pada keadaan normal bakteri dapat mengadakan pembelahan setiap 20 menit sekali. Jika pembelahan berlangsung satu jam, maka akan dihasilkan delapan anakan sel.

b.  Para Seksual
1. Transformasi
Merupakan pemindahan sebagian materi genetika dari satu bakteri ke bakteri lain. Pada proses transformasi tersebut ADN bebas sel bakteri donor akan mengganti sebagian dari sel bakteri penerima, tetapi tidak terjadi melalui kontak langsung. Cara transformasi ini hanya terjadi pada beberapa spesies saja, . Contohnya : Streptococcus pnemoniaeu, Haemophillus, Bacillus, Neisseria, dan Pseudomonas. Diguga transformasi ini merupakan cara bakteri menularkan sifatnya ke bakteri lain. Misalnya pada bakteri Pneumococci yang menyebabkan Pneumonia dan pada bakteri patogen yang semula tidak kebal antibiotik dapat berubah menjadi kebal 5 antibiotik karena transformasi Proses ini pertama kali ditemukan oleh Frederick Grifith tahun 1982.

2. Transduksi
Merupakan pemindahan sebagian materi genetik dari sel bakteri satu ke bakteri lain dengan perantaraan virus. Selama transduksi, kepingan ganda ADN dipisahkan dari sel bakteri donor ke sel bakteri penerima oleh bakteriofage (virus bakteri). Bila virus  – virus baru sudah terbentuk dan akhirnya menyebabkan lisis pada bakteri, bakteriofage yang nonvirulen (menimbulakan respon lisogen) memindahkan ADN dan bersatu dengan ADN inangnya, Virus dapat menyambungkan materi genetiknya ke DNA bakteri dan membentuk profag. Ketika terbentuk virus baru, di dalam DNA virus sering terbawa sepenggal DNA bakteri yang diinfeksinya. Virus yang terbentuk memiliki dua macam DNA yang dikenal dengan partikel transduksi (transducing particle). Proses inilah yang dinamakan Transduksi. Cara ini dikemukakan oleh Norton Zinder dan Jashua Lederberg pada tahun 1952.



c.  Reproduksi Seksual/generatif
Konjugasi
Merupakan pemindahan sebagian materi genetika dari satu bakteri ke bakteri lain melalui  suatu kontak langsung. Artinya, terjadi transfer ADN dari sel bakteri donor ke sel bakteri penerima melalui ujung pilus. Ujung pilus akan melekat pada sel penerima dan  ADN dipindahkan melalui pilus tersebut. Kemampuan sel donor memindahkan ADN dikontrol oleh faktor pemindahan ( transfer faktor = faktor F )

A.2 Reproduksi Fungi.
Secara umum fungi dikelompokkan menjadi kapang dan khamir. Kapang merupakan  fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan khamir merupakan fungi bersel  tunggal dan tak berfilamen. Reproduksi kapang dilakukan secara seksual dan aseksual. Secara aseksual dilakukan dengan :
1.      Pembelahan ( suatu sel membagi diri untuk membentuk dua sel anak yang serupa).
2.      Penguncupan (suatu sel anak tumbuh dari penonjolan kecil pada sel inang).
3.      Pembentukan spora.

Ada beberapa macam spora aseksual yaitu :
1.      Spora yang terjadi karena protoplasma dalam suatu sel tertentu berkelompok-kelompok kecil, masing-masing mempunyai membran serta inti sendiri. Sel tempat terbentuknya spora disebut sporangium, dan spora tersebut disebut sporangiospora.
2.       Spora yang terjadi karena ujung suatu hifa berbelah-belah seperti tasbih disebut  konidiospora. Sporanya disebut konidia sedangkan tangkai terdapatnya konidia disebut konidiofor.
3.      Pada beberapa bagian-bagian miselium  dapat membesar serta berdinding tebal, bagian ini merupakan alat perkembangbiakan yang disebut klamidiospora.
4.       Bila bagian miselium tidak menjadi besar seperti aslinya, maka bagian ini disebut artospora,, oidiospora atau oidia saja.

Secara umum  reproduksi  seksual dapat dilakukan dengan peleburan nu.kleus dari kedua induknya.   Perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan isogamet atau heterogamet. Isogamet (bila perbedaan morfologi jenis kelamin belum nampak) namun ada beberapa spesies yang nampak perbedaan gamet besar dan kecil ( mikrogamet untuk sel jantan ) ( makrogamet untuk betina). Beberapa macam tipe spora seksual yaitu :
1.      Askospora ( spora bersel satu terbentuk didalam kantung yang disebut askus. Biasanya terdapat 8 askospora didalam setiap askus).
2.      Basidiospora (spora bersel satu berbentuk gada yang dinamakan basidium).
3.      Zigospora (spora besar dan berdinding tebal yang terbentuk apabila ujung-ujung dua hifa secara seksual serasi dinamakan gametangia).
4.      Oospora (spora terbentuk didalam struktur betina khusus yang disebut oogonium.

Pembuahan telur atau oosfer oleh gamet jantan di anteridium menghasilkan oospora.
Dalam setiap oogonium terdapat satu atau lebih oosfer).

A.3 Reproduksi Protozoa.      


Reproduksi yang dibahas disini adalah Protista yang termasuk dalam subkingdom  protozoa. Protozoa berkembang biak secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual berlangsung dengan pembelahan sel. Anak-anak sel dapat  berukuran sama atau tidak sama. Jika ada dua sel anak maka proses pembelahannya adalah pembelahan biner; jika terbentuk banyak anak sel maka berlangsung pembelahan ganda. Pembelahan dapat terjadi secara melintang atau secara membujur sepanjang selnya. Bentuk reproduksi aseksual umum adalah dengan cara bertunas atau berkuncup.Reproduksi seksual terjadi pada berbagai kelompok protozoa.  Konjugasi merupakan  salah satu reproduksi seksual dengan cara penyatuan fisik antara dua individu yang dibarengi  dengan pertukaran bahan  nukleus, ini hanya dijumpai pada ciliata. Beberapa protozoa yang lain memiliki daur reproduksi yang rumit, sebagian berlangsung didalam inang vertebrata dan sebagian pada inang-inang yang lain. Sebagai contoh, banyak spesies Trypanosoma menghabiskan  sebagian daur hidupnya dalam peredaran darah inang-inang vertebrata dan sebagian lagi dalam avertebrata pengisap darah, misalnya serangga.

A.4 Reproduksi Algae.
Alga berkembang biak secara seksual dan  aseksual. Beberapa spesies terbatas pada salah satu proses tersebut, tetpai banyak yang mempunyai daur hidup yang rumit yang mencakup kedua macam  reproduksi. Reproduksi aseksual mencakup pembelahan biner sederhana. Organisme ganggang yang baru dapat dimulai dari suatu fragmen yang terlepas dari organisme multiseluler yang tua. Tetapi kebanyakan reproduksi melibatkan spora-spora uniseluler, diantaranya akinet. Spora aseksual alga aquatik berflagella dan motil disebut zoospora. Sedangkan alga yang hidup didarat memiliki spora nonmotil atau aplanospora.
Semua bentuk  reproduksi seksual dijumpai pada semua alga.  Dalam  proses ini terjadi konjugasi gamet yang menghasilkan zigot. Jika gamet-gamet itu morfologinya serupa dinamakan isogami. Jika gamet-gamet ini berbeda ukuran dinamakan heterogami. Pada 8bentuk alga tingkat tinggi sel-sel seksual menjadi lebih mudah dicirikan antara yang jantan dan betina. Ovum berukuran besar dan  nonmotil sedangkan sperma kecil dan motil dengan aktif, proses ini dinamakan oogami. Jika gamet jantan dan betina terdapat pada individu yang sama, maka spesies itu disebut biseksual. Jika gamet jantan dan betina dibentuk oleh individu yang berlainan maka individu tersebut dinamakan uniseksual.



A.5 Reproduksi Virus.
Karena memiliki substansi genetik, virus dapat melakukan reproduksi atau replikasi. Virus hanya bisa bereproduksi di dalam sel/jaringan yang hidup. Reproduksi virus terjadi dengan cara penggandaan materi genetik inang yang disebut replikasi. Virus membutuhkan bahan-bahan dari sel makhluk lain untuk bereplikasi (bereproduksi). Replikasi virus secara umum terbagi menjadi 2 yaitu siklus litik dan siklus lisogenik.

a. Siklus Litik
Cara reproduksi virus yang utama menyangkut penghancuran sel inangnya. Siklus
litik, secara umum mempunyai tahap:
1.      Adsorbsi: Penempelan virus pada inang.
2.      Injeksi/Penetrasi: virus melubangi membran sel inang dengan enzim lisozim. Setelah berlubang, virus akan menyuntikkan materi genetiknya kedalam sitoplasma sel inang.
3.      Sintesis/Replikasi: Materi genetik dari virus akan menonaktifkan materi genetik sel inangnya, kemudian mengambil alih kerja sel inang. DNA dari virus, akan menjadikan sel inang sebuah tempat pembentukan virus baru.
4.      Perakitan: Molekul-molekul protein (DNA) yang telah terbentuk kemudian diselubungi oleh kapsid, berfungsi untuk memberi bentuk tubuh virus.
5.      Litik/Lisis/Pembebasan: Virus-virus yang telah matang akan berkumpul pada membran sel dan menyuntikkan enzim lisosom untuk menghancurkan membran sel. Sel yang membrannya hancur itu akhirnya akan mati.

b. Siklus Lisogenik
Pada siklus ini sel inangnya tidak hancur tetapi disisipi oleh asam nukleat dari virus. Tahap penyisipan tersebut kemudian membentuk provirus. Siklus lisogenik meliputi tahapan:
1.      Adsorbsi
2.      Injeksi
3.      Penggabungan
4.      Pembelahan
5.      Sintesis











BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.                 Kesimpulan
Setelah membaca dari beberapa sumber yang kami dapatkan dari internet, Bakteri bereproduksi secara vegetatif dengan membelah diri secara biner. Pada lingkungan yang baik bakteri dapat membelah diri tiap 20 menit, dan pada Fungi Secara umum dikelompokkan menjadi kapang dan khamir. Kapang merupakan  fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan khamir merupakan fungi bersel  tunggal dan tak berfilamen. Reproduksi kapang dilakukan secara seksual dan aseksual. Pada reproduksi virus terjadi dengan cara penggandaan materi genetik inang yang disebut replikasi. Virus membutuhkan bahan-bahan dari sel makhluk lain untuk bereplikasi (bereproduksi). Replikasi virus secara umum terbagi menjadi daur litik dan lisogenik. Selanjutnya pada reproduksi Protista yang termasuk dalam subkingdom  protozoa. Protozoa berkembang biak secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual berlangsung dengan pembelahan sel. Anak-anak sel dapat  berukuran sama atau tidak sama. Jika ada dua sel anak maka proses pembelahannya adalah pembelahan biner; jika terbentuk banyak anak sel maka berlangsung pembelahan ganda. Dan yang terkahir adalah Alga, Alga berkembang biak secara seksual dan  aseksual. Beberapa spesies terbatas pada salah satu proses tersebut, tetpai banyak yang mempunyai daur hidup yang rumit yang mencakup kedua macam  reproduksi.

4.2.                 Saran
Pada pengamatan reproduksi mikroorganisme harus memperhatikan cirri atau spesies dari mikroorganisme tersebut, karena pada setiap mikroorganisme mempunyai cara dan lama proses bereproduksi yang berbeda-beda. Dengan mengamati hal tersebut maka kita dapat memehami lebih dalam tentang Bab Pembelajaran “Reproduksi Mikroorganisme” ini.


DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2011. ANATOMI DAN MORFOLOGI BAKTERI, JAMUR & VIRUS. http://aguskrisnoblog.wordpress.com/2011/01/14/anatomi-dan-morfologi-bakteri-jamur-virus/

 

Michael J.Pelczar, Jr., dan E.S.C. Chan.2008.Dasar-dasar Mikrobiologi.UI-Press:Jakarta.


Winarsih S. 2011. REPRODUKSI DAN PERTUMBUHAN MIKROORGANISME . PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI PASCASARJANAUNIVERSITAS PALANGKARAYA.

Tidak ada komentar:

 
 
Blogger Templates