III.
PENGUJIAN
KUALITAS DAGING
A. Pendahuluan
1.
Latar belakang
Setiap manusia memerlukan bahan
pangan yang memiliki nilai gizi yang tinggi
untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Kebutuhan manusia akan bahan pangan sebagai
sumber zat gizi dari waktu ke waktu semakin meningkat. Bahan pangan perlu
mendapat perhatian yang besar agar dapat memenuhi kebutuhan zat gizi yang
dibutuhkan. Manusia telah berusaha meningkatkan persediaan bahan pangan dengan
cara menciptakan cara-cara yang baik untuk memproduksi dan mengolah bahan pangan.
Daging ayam merupakan salah satu
bahan pangan yang memegang peranan cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan
gizi. Daging ayam memiliki protein yang
berkualitas tinggi dan mengandung asam amino yang sangat dibutuhkan oleh tubuh
manusia. Selain protein, daging ayam mengandung lemak, karbohidrat, vitamin terutama komponen vitamin B kompleks, mineral dan air. Masing-masing komponen berbeda-beda
bergantung pada spesies, umur, dan jenis kelamin ayam yang bersangkutan.
Disamping nilai gizi yang dimiliki, daging ayam juga memiliki beberapa
keunggulan seperti: harganya yang relatif terjangkau, dapat dikonsumsi oleh
seluruh lapisan masyarakat dan cukup tersedia di pasaran.
Pada umumnya
masyarakat Indonesia menghendaki daging yang empuk yang berasal dari hewan
ternak yang memiliki umur potong yang muda. Beberapa jenis olahan makanan dari
daging juga mempertimbangkan serat daging, tingkat kekenyalan dan kandungan air
dari daging tersebut. Terkait dengan cara pengolahan dari berbagai olahan
makanan tersebut seperti perebusan, penggilingan, pembakaran dan penggorengan.
Daging yang
beredar di pasar setiap harinya tentunya memiliki kualitas yang sangat
bervariatif. Beragamnya kondisi ternak, cara pemeliharaan dan umur potong dari
ternak tersebut menyebabkan kualitas dari daging yang dihasilkan menjadi
beragam. Beragam kondisi tersebut, pelanggan harus teliti dalam memillih daging
yang akan dikonsumsi.
Beberapa hal
yang menjadi patokan kualitas daging yang dibahas dalam praktikum ini
diantaranya komposisi fisik daging, tingkat keempukan, ada tidaknya kandungan
NH3 dari pembusukan dan pH dari daging. Hal-hal tersebut menjadi
indikator akan mutu daging yang dikonsumsi. Beberapa cara dalam memilih daging
adalah dengan memperhatikan warna daging dan bau dari daging tersebut agar
terhindar dari tindakan penipuan seperti pengoplosan daging.
2. Tujuan
Praktikum
a. Pengaruh
Suhu dan Kecepatan Pengeringan terhadap Kualitas Daging Sapi
Percobaan
ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kondisi proses (suhu dan kecepatan) pengeringan
dengan menggunakan oven terhadap kualitas daging sapi.
b. Pengaruh
Suhu Pembekuan (Freezing) pada
Densitas Daging Ayam
Percobaan ini bertujuan untuk menganalisis
pengaruh suhu pembekuan (freezing)
pada densitas daging ayam.
3.
Waktu dan Tempat Praktikum
B.
Tinjauan
Pustaka
Definisi
daging adalah semua jaringan hewan dan produk olahannya yang sesuai dan
digunakan sebagai makanan. Daging terdiri dari empat jaringan utama, yaitu
jaringan otot (muscle), jaringan ikat, jaringan epitel dan jaringan saraf.
Daging dapat diklasifikasikan berdasarkan: intensitas warna, yaitu daging merah
dan daging putih; dan asal daging. Daging merah misalnya daging sapi, daging
kerbau, daging babi, daging domba, daging kambing dan daging kuda. Daging
unggas misalnya daging ayam, itik dan angsa. Daging hasil laut misalnya ikan,
udang, kepiting, kerang. Daging hewan liar misalnya kijang, babi hutan. Daging
aneka ternak misalnya kelinci, burung puyuh, dan merpati (Nurwantoro et al., 2003).
Sifat fisik daging biasanya
berkaitan erat dengan kualitas daging. Sebab kualitas daging dapat diartikan
sebagai ukuran sifat-sifat daging yang dikehendaki dan dinilai oleh konsumen.
Selain dipengaruhi tujuan penggunaannya, kualitas daging juga dipengaruhi oleh
faktor antemmortem dan postmortem. Faktor antemortem antara lain lokasi
anatomis dan fungsi, kedewasaan fisiologis, tekstur dan ukuran serabut,
kebasahan dan firmness, warna, marbling dan stress. Sedangkan faktor postmortem
meliputi laju pendinginan, suspense karkas, stimulant elektris, pelayuan,
pembekuan dan perlakuan fisik atau kimiawi. Adapun sifat-sifat daging yang
berpengaruh terhadap kualitas tersebut di atas yaitu Water holding capacity (WHC), warna (colour), kesan jus (juiciness),
keempukan (tenderness), susuk masak (cooking loss), cita rasa (flavor), struktur, firmness dan tekstur
(Nurwantoro et al., 2003).
Daging adalah semua bagian tubuh
ternak yang dapat dan wajar dimakan termasuk jaringan-jaringan dan organ tubuh
bagian dalam seperti hati, ginjal, dan lain-lain. Sedangkan semua jaringan
hewan dan semua produk hasil pengolahan jaringan tersebut yang sesuai untuk
dimakan serta tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang memakannya.
Didasarkan pada definisi tersebut maka organ-organ dalam (jeroan) dan produk
olahan seperti corned termasuk dalam kategori daging. Namun demikian sering
dalam kehidupan sehari-hari yang disebut dengan daging adalah semata-mata
jaringan otot, meskipun benar bahwa komponen utama penyusun daging adalah otot,
tetapi tidaklah sama otot dengan daging (Suharyanto, 2008)
Susut masak adalah
perhitungan berat yang hilang selama pemasakan atau pemanasan pada daging.
Umumnya makin lama waktu pemasakan makin besar kadar cairan daging hingga
mencapai tingkat yang konstan. Susut masak merupakan indicator nilai nutrisi
daging yang berhubungan dengan kadar jus daging yaitu banyaknya air yang
terikat dalam dan diantara serabut otot. Jus daging merupakan komponen dari
daging yang ikut menetukan keempukan daging (Soeparno, 2002).
Daging adalah urat yang melekat pada kerangka
kecuali urat dari bagian bibir, hidung dan telinga dari hewan yang sehat
sewaktu dipotong. Daging terdiri dari otot, jaringan penghubung dan jaringan
lemak. Daging merupakan salah satu bahan pangan bergizi tinggi disamping telur,
susu, dan ikan. Daging mengandung protein, lemak, mineral, air serta vitamin
dalam susunan yang berbeda pula. Komposisi daging terdiri dari 75% air, 18%
protein yang dapat larut (termasuk mineral) dan 3% lemak. Ternak rata-rata
menghasilkan karkas (bagian badan hewan) 55%, macam-macam hasil sampingan 9%,
kulit 6% dan bahan lainnya 30% (Palupi, 2006).
C.
Hasil
dan Pembahasan
1.
Pengaruh suhu pembekuan
(Freezing)pada Densitas Daging Ayam
a. Hasil
Pengamatan
Tabel 3.1
Perubahan ukuran dan volume daging ayam/ 5 menit
No
|
M (gr)
|
P (cm)
|
L (cm)
|
T (cm)
|
V (cm)
|
D (gr/cm3)
|
1.
|
20
|
3
|
2
|
0,5
|
6,3
|
3,17
|
2.
|
25
|
2,4
|
1,2
|
0,45
|
8,1
|
3,086
|
3.
|
28
|
2,8
|
2
|
0,7
|
5,88
|
4,76
|
4.
|
29,5
|
2,9
|
1,5
|
0,6
|
10,57
|
2,79
|
5.
|
30,75
|
2,7
|
1,5
|
0,3
|
9
|
3,46
|
Sumber : Laporan
Sementara
Tabel 3.2 Daging
ayam sebelum perlakuan / 5 menit
No
|
URAIAN
|
HASIL
|
1.
|
Kenampakan Warna
|
Putih – merah muda
|
2.
|
Kekerasan
|
Lembek
|
3.
|
Susut Masak
|
Belum mengalami penyusutan
|
|
Kadar Air
|
Sedikit
|
Sumber : Laporan
Sementara
Tabel 3.3 Daging
ayam setelah perlakuan / 5 menit
No
|
URAIAN
|
HASIL
|
1.
|
Kenampakan Warna
|
Putih pucat
|
2.
|
Kekerasan
|
Sedikit keras
|
3.
|
Susut Masak
|
0,75
|
4.
|
Kadar Air
|
Bertambah = 288,32 %
|
1.
Uji daya Ikat Air
a) MgH2O =


=126,58
b) Kadar
Air Bebas


=288,32 %
c)
Kadar air total 


= 100%
2. Susut
Masak


=
0,75
b.
Pembahasan
Percobaan pada pengujian kualitas daging
ayam membahas tentang hasil yang didapatkan dari praktikum yang meliputi
kenampakan, kekenyalan, susut asak dan kadar air. Kenampakan warna menjadi
lebih putih dibandingkan dengan warna awalnya setelah didinginkan menggunakan frezeer.
Kekerasan pada daging ayam dari kenyal berubah menjadi semakin keras
dikarenakan ketika dimasak diatas suhu beku lemak dalam daging akan cair dan
berkumpul dalam struktur mikro dan struktur otot akan keluar sehingga menjadi
lebih keras.
Uji daya ikat air untuk mgH2O diperoleh 126,58
, dan kadar air bebas
diperoleh 288,32 %. Menentukan Densitas menggunakan rumus M1/V1, potongan
daging dimasukan kedalam freezer pada suhu 5oC selama 5 menit
sebanyak 5 kali dan dikurangi 1oC setiap 5 menit sekali dan
didapatkan hasil yang berbeda setelah daging dikeluarkan dari freezer. Berat
potongan daging ayam setelah dimasukan kedalam freezer kemudian dikeluarkan
ditimbang dengan hasil 1,2,3,4 dan 5 berturut turut adalah 20 gram, 25 gram, 28 gram, 29,5 gram dan
30,75 gram. Hasil yang didapatkan beratnya semakin bertambah.
Daya ikat air oleh protein daging (DIA)
dapat ditentukan dengan beberapa cara, yaitu dengan membebani atau mengepres
0,3 g sampel daging dengan beban 35 kg pada suatu kertas saring diantara dua
plat kaca selama 5 menit (Soeparno, 2005). Pada percobaan tersebut terjadi
perubahan dalam berat daging. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi berat
daging tersebut antara lain, karena suhu lingkungan, karena pada saat akan
melakukan percobaan pada daging ayam yang ke 4 kalinya terhambat oleh
penimbangan yang tertunda yang disebabkan ruangan terkunci sehingga terhambat
dalam proses pendinginan.
DAFTAR
PUSTAKA
Suharyanto,
2007. Kuliah dasar teknologi hasil ternak.
Soeparno,
2005. Teknologi Pengawasan Daging. Fakultas Teknologi Pertanian Bogor, Bogor.
Wismer-Pedersen, J. 1971. Pada The
Science of Meat and Meat Products. 2nd Ed. J.F. Price and B.S.
Schweigert, W.H. Frreeman and Co., San Fransisco.
Tambunan, Reny Debora. 2010. Keempukan
Daging dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar