
A. Pendahuluan
1.
Latar Belakang
Daging adalah bahan pangan yang
bernilai gizi tinggi karena kaya akan protein, lemak, mineral serta zat lainnya
yang sangat dibutuhkan tubuh. Usaha penyediaan daging memerlukan perhatian
khusus karena daging mudah dan cepat tercemar oleh pertumbuhan mikroorganisme.
Daging sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangbiakkan mikroorganisme
sehingga dapat menurunkan kualitas daging.
Penurunan kualitas daging
diindikasikan melalui perubahan warna, rasa, aroma bahkan pembusukan. Daging
yang merupakan sumber protein mudah dan sering mengalami kerusakan oleh
mikroba. Kerusakan ini disebabkan oleh adanya kontaminasi mikroba pada
permukaan daging tersebut pada saat prosesing karkas dan sebesar 99% oleh
kontaminan bakteri. Usaha untuk meningkatkan kualitas daging dilakukan melalui
pengolahan atau penanganan yang lebih baik sehingga dapat mengurangi kerusakan
atau kebusukan selama penyimpanan.
|
2.
Tujuan Praktikum
Praktikan dapat menjelaskan
pengertian pengawetan daging dengan madu, melakukan pengawetan daging dengan
madu, dan melakukan uji kualitas pengawetan daging dengan madu dengan yang tidak menggunakan madu.
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum
Teknologi Pengolahan Hasil Ternak acara pengawetan daging dengan madu
dilaksanakan pada hari Kamis
Tanggal 16
Oktober 2014 pukul 07.30
- 09.20 WIB
di Laboratorium Industri Pengolahan Hasil Ternak Program Studi Peternakan
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
B.
Tinjauan Pustaka
Daging
merupakan salah satu komoditi peternakan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
protein, karena daging mengandung protein yang bermutu tinggi, yang mampu
menyumbangkan asam amino esensial yang lengkap. Menurut Lawrie (2000), daging
didefinisikan sebagai bagian dari hewan potong yang digunakan manusia sebagai
bahan makanan, selain mempunyai penampakan yang menarik selera, juga merupakan
sumber protein hewani berkualitas tinggi. Daging adalah seluruh bagian dari
ternak yang sudah dipotong dari tubuh ternak kecuali tanduk, kuku, tulang dan
bulunya, dengan demikian hati, lympa, otak, dan isi perut seperti usus juga
termasuk daging (Munarnis, 2002).
Daging merupakan pangan bergizi tinggi.
Komposisi daging menurut Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI (2001), dalam
100 gram daging mengandung protein sebesar 18,8 gram dan lemak 14 gram. Daging
mempunyai kandungan mineral antara lain kalsium 11 mg, fosfor 170 mg, dan besi
2,8 mg. Selain itu daging juga memiliki kandungan vitamin A dan vitamin B1. Daging
sapi segar mengandung air 75%, protein 19%, dan lemak 2.5% (Syamsir, 2008).
Kadar air dalam daging berkisar antara 60
– 70% dan apabila bahan (daging) mempunyai kadar air tidak terlalu tinggi atau
tidak terlalu rendah yaitu antara kisaran 15 – 50% maka bahan (daging) tersebut
dapat tahan lama selama penyimpanan. Soputan (2000), menyatakan kadar air pada
daging sapi yang digiling lebih tinggi dari daging sapi yang diiris. Hal ini
karena perlakuan fisik dalam pembuatan daging giling menyebabkan air terlepas
terutama air terikat protein sudah terurai keluar sehingga menyebabkan
bertambahnya air bebas lebih banyak dibanding dengan daging iris. Air bebas
mudah lepas dengan perlakuan mekanis. Selanjutnya dinyatakan bahwa semakin lama
daging sapi disimpan semakin tinggi kadar airnya. Hal ini karena semakin lama
disimpan maka air terikat akan terurai menjadi komponen yang lebih sederhana
karena aktivitas enzim mikroorganisme dan enzim daging, dengan demikian air
bebas yang ada akan semakin bertambah (Winarno et al., 2005)
Daging hewan potong, mempunyai pH
sesudah disembelih berkisar antara 6.7 – 8 dan tingkat keasaman madu yang
tinggi (pH 3,65) akan mengurangi pertumbuhan dan daya hidup bakteri, sehingga
bakteri tersebut akan mati. Pada daging sapi dalam waktu 25 jam sesudah
dipotong terjadi penurunan pH hingga 5.6 – 5.8 di dalam semua otot-otot (Resang,
2002 dalam Hafriyanti et al., 2008). Daging yang mempunyai pH rendah
berada sekitar 5,1 – 6,1 menyebabkan daging mempunyai struktur terbuka,
sedangkan pH tinggi berada sekitar 6.2 – 7.2 menyebabkan daging pada tahap
akhir akan mempunyai struktur yang tertutup atau padat dan lebih memungkinkan
untuk perkembangan mikroorganisme (Kamaruddin, 2002).
Warna daging sapi segar yang baik
adalah warna merah cerah. Warna daging sapi yang baru dipotong yang belum
terkena udara adalah warna merah-keunguan, lalu jika telah terkena udara selama
kurang lebih 15-30 menit akan berubah menjadi warna merah cerah. Warna merah
cerah tersebut akan berubah menjadi merah-coklat atau coklat jika daging
dibiarkan lama terkena udara (Deptan, 2009).
Bau daging segar tidak berbau masam/busuk, tetapi
berbau khas daging segar. Bau daging dipengaruhi oleh jenis hewan, pakan, umur
daging, jenis kelamin, lemak, lama waktu, dan kondisi penyimpanan. Bau daging
dari hewan yang tua relatif lebih kuat dibandingkan hewan muda, demikian pula
daging dari hewan jantan memiliki bau yang lebih kuat daripada hewan betina.
Kebusukan akan kerusakan daging ditandai oleh terbentuknya senyawa-senyawa
berbau busuk seperti amonia, indol, dan amin, yang merupakan hasil pemecahan
protein oleh mikroorganisme (Kastanya, 2009).
C.
Materi dan Metode
1. Materi
a. Daging segar 5 gr
b. Madu secukupnya
2. Metode
a. Daging segar dipotong dengan berat 5 gram.
b. Daging dioles dengan madu sampai merata.
c. Daging yang sudah dioles madu di oven sekitar 5
menit.
d. Daging dikeluarkan dari oven.
e.
Dilakukan pengamatan organoleptik, pH dan kadar air terhadap daging.
D.
Hasil Pengamatan dan Pembahasan
a. Uji pH
Daging
hewan potong, mempunyai pH sesudah disembelih berkisar antara 6.7 – 8. Pada
daging sapi dalam waktu 25 jam sesudah dipotong terjadi penurunan pH hingga 5.6
– 5.8 di dalam semua otot-otot (Resang, 2002 dalam Hafriyanti et al.,
2008). Praktikum pada kali ini kami menggunkan madu dengan tujuan memperpanjang
masa simpan daging. Tingkat keasaman madu yang tinggi (pH 3,65) akan mengurangi
pertumbuhan dan daya hidup bakteri, sehingga bakteri tersebut akan mati
Hasil
praktikum yang sudah kami lakukan, diperoleh hasil pH daging segar 7,1 dan
setelah diolesi dengan madu turun menjadi 6,8. Hasil praktikum menunjukan
penurunan pH sebesar 0,3 (penurunan tidak terlalu tinggi). Literature yang kami
gunakan menyatakan bahwa pH madu sekitar 3,65 dan daging setelah disembelih
sekitar 6,7-8, berarti daging yang digunakan merupakan daging normal karena
masuk dalam kisaran daging yang normal.
Hasil
pH daging setelah diolesi dengan madu menunjukkan angka sebesar 6,8. Literature
yang kami peroleh menyatakan pH tinggi berada sekitar 6.2 – 7.2 menyebabkan
daging pada tahap akhir akan mempunyai struktur yang tertutup atau padat dan
lebih memungkinkan untuk perkembangan mikroorganisme. Hasil yang diperoleh
menyimpang dari dugaan awal bahwa madu yang dapat mengawetkan daging dengan
menurunkan aktifitas mikroorganisme, hal ini mungkin dapat terjadi dikarenakan
pada waktu praktikum, praktikan kurang memperhatikan kebersihan atau daging
terlalu lama dibiarkan di ruang terbuka.
b. Uji Kadar Air
Winarno et al. (2005) menyatakan kadar air
dalam daging berkisar antara 60 – 70% dan apabila bahan (daging) mempunyai
kadar air tidak terlalu tinggi atau tidak terlalu rendah yaitu antara kisaran
15 – 50% maka bahan (daging) tersebut dapat tahan lama selama penyimpanan.
Soputan (2000), menyatakan kadar air pada daging sapi yang digiling lebih
tinggi dari daging sapi yang diiris. Hal ini karena perlakuan fisik dalam
pembuatan daging giling menyebabkan air terlepas terutama air terikat protein
sudah terurai keluar sehingga menyebabkan bertambahnya air bebas lebih banyak
dibanding dengan daging iris. Air bebas mudah lepas dengan perlakuan mekanis.
Selanjutnya dinyatakan bahwa semakin lama daging sapi disimpan semakin tinggi
kadar airnya. Hal ini karena semakin lama disimpan maka air terikat akan
terurai menjadi komponen yang lebih sederhana karena aktivitas enzim
mikroorganisme dan enzim daging, dengan demikian air bebas yang ada akan
semakin bertambah.
Hasil praktikum yang telah kami lakukan didapatkan
hasil kadar air daging segar sebesar 25% dan kadar air setelah diolesi madu
tetap yaitu sebesar 25%. Literature yang kami peroleh menyatakan bahan (daging)
mempunyai kadar air tidak terlalu tinggi atau tidak terlalu rendah yaitu antara
kisaran 15 – 50% maka bahan (daging) tersebut dapat tahan lama selama
penyimpanan. Hasil ini menyatakan daging hasil praktikum dapat di simpan lebih
lama karena kandungan airnya rendah yaitu sebesar 25%, akan tetapi terjadi
penyimpangan antara kandungan kadar air daging segar dan yang telah diolesi
madu karena mengandung kadar air yang sama, hal ini mungkin terjadi karena
daging terlalu lama dibiarkan dalam ruang terbuka saat praktikum berlangsung
sehingga terdapat air yang keluar dari daging sebelum dilakukan perlakuan.
c. Uji Organoleptik
Warna
daging sapi segar yang baik adalah warna merah cerah. Warna daging sapi yang
baru dipotong yang belum terkena udara adalah warna merah-keunguan, lalu jika
telah terkena udara selama kurang lebih 15-30 menit akan berubah menjadi warna
merah cerah. Warna merah cerah tersebut akan berubah menjadi merah-coklat atau
coklat jika daging dibiarkan lama terkena udara (Deptan, 2009). Bau daging segar tidak
berbau masam/busuk, tetapi berbau khas daging segar. Bau daging dipengaruhi
oleh jenis hewan, pakan, umur daging, jenis kelamin, lemak, lama waktu, dan
kondisi penyimpanan. Bau daging dari hewan yang tua relatif lebih kuat
dibandingkan hewan muda, demikian pula daging dari hewan jantan memiliki bau
yang lebih kuat daripada hewan betina. Kebusukan akan kerusakan daging ditandai
oleh terbentuknya senyawa-senyawa berbau busuk seperti amonia, indol, dan amin,
yang merupakan hasil pemecahan protein oleh mikroorganisme (Kastanya, 2009).
Hasil pratikum yang telah kami lakukan
menunjukkan hasil warna daging segar merah sedikit coklat, berdasarkan pernyataan dari Deptan (2009) hal ini dapat
dikarenakan daging terlalu lama dibiarkan dalam udara terbuka. Setelah
dilakukan perlakuan dengan diolesi madu warna menjadi merah, dari hal tersebut
dapat dikatakan daging mengalami peningkatan kualitas karena dapat meningkatkan
kecerahan warna pada daging dengan menurunkan aktivitas oksidasi yang dapat
membuat warna daging pucat. Hasil praktikum dari segi bau menunjukkan bau
daging segar amis dan setelah diolesi madu menjadi agak sedikit harum, hal ini
menunjukkan bahwa madu dapat meningkatkan aroma dari daging dan dapat
menurunkan aktivitas mikroorganisme yang dapat menyebabkan pembusukan pada
daging.
E. Kesimpulan dan
Saran
1.
Kesimpulan
Kesimpulan dari
kelompok kami untuk praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Ternak antara lain :
a.
Daging adalah bahan pangan yang bernilai gizi tinggi
karena kaya akan protein, lemak, mineral serta zat lainnya yang sangat
dibutuhkan tubuh.
b. Daging
hewan potong, mempunyai pH sesudah disembelih berkisar antara 6.7 – 8, hasil
praktikum menunjukkan kenormalan pH pada daging segar yaitu sebesar 7,1 akan
tetapi pada saat dilakukan perlakuan dengan diolesi madu turun menjadi 6,8 hal
ini dapat disebabkan karena kurangnya menjaga kebersihan pada saat praktikum.
c. Hasil praktikum kandungan kadar air menunjukkan
angka 25% berarti kandungan air dalam daging segar dan diolesi madu rendah
sehingga daging dapat disimpan lebih lama.
d. Warna
daging sapi segar yang baik adalah warna merah cerah, dari hasil praktikum
menunjukkan peningkatan kualitas daging dengan meningkatkan kecerahan warna
daging.
e. Bau
daging segar adalah harum khas daging sapi, dari hasil praktikum menunjukkan
pemberian madu dapat meningkatkan aroma dari daging.
2.
Saran
Saran dari
kelompok kami untuk praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Ternak kedepannya
antara lain :
a.
Kedisiplinan dalam melaksanakan praktikum Teknologi Pengolahan
Hasil Ternak lebih diperhatikan oleh Praktikan maupun Asisten sehingga
praktikum dapat berjalan dengan baik.
b.
Keaktifan tiap-tiap anggota kelompok praktikan sangat
diperlukan baik dalam melakukan praktikum maupun bertanya sehingga dapat
melaksanakan praktikum dengan baik.
c.
Penyediaan alat dan bahan yang memadai sehingga
praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Ternak dapat berjalan dengan seharusnya
tanpa ada gangguan dikarenakan alat atau bahan yang terbatas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar