
A. Pendahuluan
1.
Latar
Belakang
Beef sausage (sosis) adalah makanan yang dibuat dari
daging (kadang-kadang dari ikan) yang telah dicincang kemudian dihaluskan dan
diberi bumbu-bumbu, dimasukkan ke dalam pembungkus yang berbentuk bulat panjang
yang berupa usus hewan atau pembungkus buatan, dengan atau tanpa dimasak,
dengan atau tanpa diasap.
Komposisi sosis adalah jaringan daging hewan, air,
bahan-bahan kyuring, bumbu-bumbu, bahan pengisi (filler) dan bahan pengikat (binder).
Tujuan grinding (penggilingan) adalah
agar serabut daging pecah, sehingga protein daging dapat keluar dan menjadi
emulsifier yang baik bagi sosis. Selama pembuatanemulsi sosis, protein-protein
terlarut dan air membentuk suatu matrik yang menyelimuti globula-globula lemak.
Emulsi sosis merupakan tipe emulsi minyak dalam air dan dalam hal ini lemak
sebagai fase diskontinyu atau fase dispersi, sedangkan air sebagai fase
kontinyu atau fase pendispersi dengan protein daging yangterlarut berperan
sebgai emulsifier.
|
2.
Tujuan
Praktikum
a.
Menjelaskan
pengertian beef sausage atau sosis
b.
Melakukan
pembuatan sosis
c.
Melakukan
uji kualitas sosis yang dihasilkan dengan produk sosis komersil
3.
Waktu
dan Tempat Praktikum
Acara
praktikum beef sausage ini
dilaksanakan pada hari Selasa, 21 Oktober 2014 pada pukul 09.20–11.05 WIB di
Laboratorium Industri
Pengolahan Hasil Ternak, Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian,
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
B.
Tinjauan
Pustaka
Daging memiliki struktur
yang terdiri dari
jaringan otot, jaringan ikat, pembuluh darah dan jaringan
syaraf. Menurut SNI 01-3947-1995 urat
daging melekat pada
kerangka, kecuali urat daging dari
bagia bibir, hidung dan
telinga yang berasal dari sapi/kerbau yang sehat. Jenis mutu
dibedakan menjadi segar, dingin dan beku, syarat mutu,
pengambilan contoh
dan pengemasan (Bobi, 2011).
Sosis adalah suatu
makanan yang terbuat dari
daging cincang, lemak hewan,
ternak
dan rempah, serta bahan-bahan
lain. Sosis umumnya
dibungkus dalam suatu
pembungkus yang secara tradisional menggunakan usus hewan, tapi sekarang
sering kali menggunakan bahan sintetis, serta diawetkan dengan
suatu cara, misalnya dengan
pengasapan. Pembuatan sosis merupakan suatu
teknik produksi dan
pengawetan makanan yang telah
dilakukan sejak lama (Bramastra,
2010).
Terdapat 3 jenis chasing yang sering digunakan dalam pembuatan sosis
yaitu alami, kolagen serta
selulosa. Chasing alami
biasanya terbuat dari usus alami
hewan, chasing ini mempunyai
keuntungan dapat dimakan, bergizi tinggi
dan melekat pada
produk, sedangkan kerugian dari chasing
ini adalah produk
ini tidak awet.
Chasing kolagen biasanya
berbahan baku dari kulit
hewan besar, keuntungan dari
jenis ini dapat
diwarnai, bias dimakan dan melekat pada
produk. Chasing selulosa biasanya
berbahan baku pulp. Keuntungan chasing selulosa adalah
dapat dicetak atau
diwarnai dan murah. Kerugian
dari chasing
ini adalah sangat
keras dan dianjurkan
untuk tidak dimakan
(Astawan, 2008).
Emulsi adalah sistem dua fase yang
terdiri
atas suatu disperse
dua cairan atau
senyawa yang tidak dapat bercampur, yang satu terdispersi pada
yang lain. Cairan yang berbentuk globula-globula kecil disebut fase
dispersi
atau
fase kontinyu. Protein-protein daging yang terlarut
bertindak sebagai pengemulsi dengan membungkus atau
menyelimuti semua permukaan partikel
yang terdispersi (Fiqhi, 2009).
Penambahan tepung tapioca pada
pembuatan sosis berfungsi untuk
menambah volume
(substitusi daging),
sehingga
meningkatkan daya ikat air dan
memperkecil penyusutan. Terjadinya pembengkakan pada pembuatan sosis
disebabkan oleh proses gelatinisasi dari tepung tapioka
yang mempunyai sifat
mudah menyerap air dan air diserap pada saat temperature
meningkat. Pati yang dipanaskan
maka akan menyebabkan
air menembus lapisan
luar granula dan
granula in imula imenggelembung
dari 60°C sampai 85°C (Enny, 2013).
C.
Materi
dan Metode
1.
Materi
a.
Alat
1)
Pisau
2)
Telenan
3)
Timbangan elektrik
4)
Chasing
plastik
5)
Stuffer
6)
Kompor
7)
Panci
b.
Bahan
1)
Daging
sapi (has dalam) 250 g
2)
Daging dada ayam 166,67 g
3)
Susu
skim bubuk 13,64 g
4)
Bawang
putih 5 g
5)
Merica/lada
2 g
6)
Ketumbar
2 g
7)
Air
es 20,46 g
8)
Gula
6,82 g
9)
Garam
6,82 g
10) Tepung tapioka 6.82 g
2.
Metode
a.
Membersihkan
daging sapi dari jaringan ikat
b.
Memotong
dan menggiling daging sapi
c.
Menambahkan
dulu garam kemudian diikuti dengan bawang putih, merica, ketumbar, gula dan air
es
d.
Menambahkan
susu skim dan tepung tapioka
e.
Melakukan
chopping (peremasan) selama 30 menit
f.
Melakukan
stuffing ke dalam chasing plastik
g.
Merebus
selama 45 menit
h.
Mendinginkan
menggunakan air biasa
i.
Meniriskan
dan menggoreng
Praktikum pembuatan Beef Sausage ini dengan cara menggunakan daging sapi cincang dan dengan menambahkan bumbu-bumbu. Bumbu yang
digunakan yaitu garam
kemudian diikuti dengan bawang putih, merica, ketumbar, gula dan air es, setelah itu ditambahkan susu skim dan tepung tapioka. Daging dan bumbu dimasukkan kedalam chasing plastik kemudian merebusnya selama 45 menit.
Uji organoleptik beef sausage hasil praktikum memiliki rasa yang sedikit asin tapi juga terasa gurih sehingga rasanya agak disukai oleh panelis. Beef sausage kontrol memiliki rasa yang enak di lidah
panelis,
selain memiliki rasa gurih, kesan
rasa dagingnya juga terasa. Surjana (2001) menyatakan bahwa rasa yang menentukan
penerimaan konsumen yaitu tingkat keasinan, kegurihan dan rasa daging.
Tekstur pada beef sausage hasil praktikum hampir menyerupai tekstur beef sausage kontrol. Tekstur beef sausage hasil praktikum sedikit kasar karena proses penggilingan yang kurang
halus jika disbanding kan tekstur beef sausage kontrol. Kedua beef sausage teksturnya sama-sama disukai oleh panelis.
Aroma
beef sausage hasil praktikum hamper menyerupai aroma beef sausage kontrol. Aroma beef sausage hasil praktikum lebih terasa bumbu-bumbunya jika dibandingkan aroma beef sausage kontrol.
Kedua beef sausage aromanya sama-sama disukai oleh panelis. Soekarto (1990) menyatakan
bahwa aroma
juga disebut
pencicipan jarak jauh karena manusia dapat mengenal enaknya makanan yang belum terlihat dengan mencium aroma dari jarak jauh.
Warna beef sausage hasil praktikum berwarna coklat dan lebih gelap, sehingga panelis tidak terlalu suka dengan warnanya. Warna beef sausage kontrol lebih cerah dan menarik sehingga disukai oleh panelis. Soekarto(1990) menyatakan bahwa warna merupakan sifat produk pangan yang paling menarik perhatian konsumen dan paling cepat memberikan kesan disukai atau tidak.
Flavor
dari kedua beef sausage sama-sama disukai oleh panelis. Aroma yang dihasilkan mencerminkan rasa dari masing-masing beef sausage. Aroma yang keluar dari makanan mencerminkan rasa yang dihasilkan
oleh makanan tersebut setelah dirasakan.
Penerimaan secara keseluruhan adalah rata-rata yang dihasilkan
dari warna, aroma, tekstur, rasa dan flavor dari beef sausage baik hasil praktikum maupun kontrol yang dimakan oleh panelis. Panelis memberikan kesan agak suka terhadap beef sausage hasil praktikum. Panelis memberikan kesan suka terhadap beef sausage kontrol.
E. Kesimpulan dan Saran
1.
Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan
di dalam praktikum pembuatan beef sausage adalah :
a.
Beef sausage dari hasil praktikum memiliki uji organoleptik dengan parameter aroma yang lebih disukai oleh panelis.
b.
Beef sausage control memiliki uji organoleptik dengan parameter rasa,
tekstur, warna, flavor dan penerimaan secara keseluruhan yang lebih disukai oleh panelis.
2.
Saran
Saran untuk praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Ternak kedepannya antara lain :
a.
Kelengkapan alat dan bahan di laboratorium,
sehingga memudahkan praktikan dalam melaksanakan praktikum.
b.
Keaktifan asisten dalam membantu praktikan apa bila ada kesulitan, begitu juga sebaliknya, keaktifan praktikan dalam bertanya kepada asisten.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar